“Apabila media massa
mengambil tempat di dalam masyarakat dan menjadi bagian dari suatu
sistem masyarakat seluruhnya, maka logislah apabila asal mula pengaruh
bukan dari media, melainkan dari masyakarat” -Jacob Oetama.
Melalui
pernyataan di atas, Jacob Oetama menitikberatkan pada keberadaan media
sebagai cermin, yakni dipengaruhi oleh realitas masyarakat. Dengan
demikian realitas media dipandang sebagai bentukan makna yang berasal
dari masyarakat. Saya setuju dengan teori ini. Sebenarnya media dan
masyarakat merupakan salah satu contoh simbiosis mutualisme. Media membutuhkan masyarakat dan begitu pula sebaliknya.
Media
butuh masyarakat sebagai target pasar mereka dan untuk kepentingan
pemberitaan, sedangkan masyarakat membutuhkan media sebagai sumber informasi.
Namun seiring dengan perkembangan media dan banjirnya informasi, fakta
ini menjadi berat sebelah. Masyarakat bebas memilih media mana yang mau
mereka konsumsi. Persaingan antar media membuat media berusaha keras
memproduksi berita yang diinginkan—bukan lagi dibutuhkan—masyarakat. Media gila-gilaan berlomba cepat menyampaikan berita agar menarik perhatian masyarakat. Tujuannya, agar mereka tak gulung tikar.
Bukan hal yang baru dan salah jika media mengikuti keinginan dan kebutuhan masyarakat. Jika ditilik dari kulit paling luar, komunikasi
massa memiliki karakteristik yakni media mampu menjangkau khalayak
secara luas. Harus berusaha membidik sasaran tertentu. Komunikasi
dilakukan oleh institusi sosial yang harus peka terhadap kondisi
lingkungannya. Oleh sebab itu, untuk memahami media secara baik, kita
harus memahami pula lingkungan atau masyarakat di mana media itu berada.
Melalui
karakteristik ini saja bisa dilihat bahwa komunikasi massa bekerja dari
dan untuk masyarakat. Komunikasi massa harus punya tujuan khalayak yang
jelas dan berupaya ‘memuaskan’ khalayak mereka.
Selain
itu, jika dilihat dari segi pesan yang dibawa media massa, harus
memiliki unsur-unsur tertentu agar dapat diterima dengan baik oleh massa
antara lain media massa memuat pesan atau informasi yang dianggap menarik oleh khalayak. Selain itu, media massa juga tidak bisa meninggalkan substansi unsur pesan yaitu faktor “penting”. Media massa akan menerbitkan isi pesan yang dianggap penting untuk khalayak.
Penting atau tidaknya suatu pesan, menarik tidaknya suatu, pesan, baru tidaknya suatu pesan pada dasarnya ditentukan oleh massa. Kembali
yang menjadikan pesan yang disampaikan media massa bernyawa adalah
khalayak. Bagaimana media harus mampu menyajikan pesan (berita) yang
menarik dan penting agar memiliki arti.
William dan Theodore dalam bukunya Media dan Masyarakat Modern menuliskan media
massa baru akan benar-benar berpengaruh jika sebelumnya ia berhasil
menjalin kedekatan dengan khalayaknya. Media komunikasi massa dapat dan
memang telah memengaruhi perubahan, apalagi jika itu menyangkut kepentingan orang banyak. Keberadaan
teori ini semakin menguatkan pernyataan Jacob Oetama di atas. Semua
yang berhubungan dengan media, bergantung pada masyarakat.
Apa
yang dikatakan Jacob berhubungan dengan konstruksi realitas yang
dilakukan media massa. Realitas media adalah realitas yang dikonstruksi
oleh media dalam dua model. Pertama, model peta analog dan kedua adalah
model refleksi realitas. Model peta analog adalah model di mana realitas
sosial dikonstruksi oleh media berdasarkan sebuah model analogi suatu
realitas itu terjadi secara rasional. Sedangkan model refleksi realitas
yaitu model yang merefleksikan suatu kehidupan yang terjadi dengan
merefleksikan suatu kehidupan yang pernah terjadi di dalam masyarakat.
Bila diamati, Jacob condong mengarah pada model peta analog. Dimana
media berusaha menyampaikan apa yang ingin diketahui masyarakat dan
disampaikan serasional mungkin.
Dari
teori-teori di atas, dapat ditarik kesimpulan pernyataan Jacob tidaklah
salah. Sebenarnya tanpa harus berada dan menjadi bagian dalam
masyarakat, media tetaplah dipengaruhi oleh masyarakat. Komunikasi
massa, media, media massa tercipta dan ‘mengabdikan’ diri dari dan
kepada masyarakat. Bukanlah disebut komunikasi dan media massa jika
tidak bisa menyentuh masyarakat. Jika tidak dianggap penting oleh
masyarakat. Lalu, agar diperhatikan masyarakat, maka media massa kini
berada di bawah pengaruh masyarakat. Selain untuk benar-benar memenuhi
karakteristik media massa, hal ini juga untuk kepentingan media itu
sendiri. Di bagian ini, keuntungan dan materi berbicara. Tak ada
masyarakat yang tertarik, maka tak ada keuntungan yang berakhir pada
gulung tikar media. Tapi, Jacob tak sepenuhnya benar. Melihat realitas
media sekarang, fokus media kini terbagi dua. Yakni mengikuti masyarakat
dan kepentingan pemilik. Media diharuskan mampu memfasilitasi
pemiliknya namun tetap melayani masyarakat. Intinya, pernyataan Jacob
logis, namun ia tak boleh melupakan kuasa si pemilik media di sini.
Bagi
saya, pemberitaan yang berujung opini publik itu sendiri berawal dari
apa yang masyarakat inginkan untuk media angkat. Misalkan saja euforia
sepak bola saat ini. Tingginya minat masyarakat tentang laga-laga sepak
bola saat ini, membuat media berlomba menayangkan berbagai laga sepak
bola yang berlangsung. Hal ini membuat prestasi yang diukir Indonesia di
turnamen bulu tangkis All England 2013 luput dari perhatian masyarakat.
Media minim sekali memberitakan prestasi ini karena perhatian
masyarakat pada sepak bola yang terlampau berlebih. Mengikuti keinginan
masyarakat, media gencar meng-update setiap laga sepak bola.
Hasilnya, opini yang terbentuk di masyarakat adalah apa hasil tim A
lawan tim B? siapa yang akan menang antara tim A dan tim B? Bukan suatu
hal yang mutlak salah, tapi hendaknya media tak hanya mengikuti
keinginan pemirsa tapi juga kebutuhan masyarakat.
klik >> http://suarausu.co/index.php?option=com_content&view=article&id=1640:refleksi-media-kini&catid=47:opini&Itemid=68
0 komentar:
Posting Komentar