Jeje S4, Tentang Kerja Keras Ala Negeri Gingseng


Aku percaya, setiap aku membuka mata pasti ada pelajaran dan pelajaran yang aku dapat. 
                   
She is my girl

Don’t touch..touch

Oh my baby girl

Don’t touch..touch

Kau cantik menawan, takkan terlupakan

Kau lah satu tanpa tandingan      

Penggalan refrain lagu tersebut berjudul She Is My Girl yang didendangkan Jefri Haris Gurusinga atau Jeje bersama boybandnya, S4 – smart, sexy, sweet, sentimental, berduet dengan penyanyi Korea Hyuna 4Minute. Kini ia lebih dikenal dengan nama Jeje S4.

Ketika berjalan menuju kantor Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 4 November lalu, ada seorang pria berjalan di depan saya. Tingginya sekitar 178 sentimeter, berambut pirang, berbatik, celana jeans hitam dan sepatu boots berhak. Tak berapa lama, pria tersebut memalingkan wajah, bersalaman dengan salah satu pegawai. “Itu Bang Jeje”, kata saya spontan.

Lalu, saya berpapasan dengannya di dalam kantor departemen. Beberapa menit menunggu, Bang Jeje masuk ke kantor ketua departemen bersama seorang temannya. Kata sekretaris departemen, ia tengah ujian suatu mata kuliah, semacam ujian susulan. Saya putuskan menunggunya.

Setelah kurang lebih 15 menit ujian serta mengobrol dengan seorang dosen, Bang Jeje berpamitan dan berjalan keluar kantor. Segera saya hampiri dan minta waktu mewawancarainya seputar prosesnya menjadi anggota S4. “Sok atuh”, jawabnya.

                                                                                ***

Suatu pagi di pertengahan tahun lalu, Jeje dibangunkan salah satu temannya. Mengingatkan akan audisi pencarian bakat yang harus ia ikuti. Jadwal menyiar yang sampai larut malam membuatnya tertidur lelap. Sebenarnya ia tak niat ikut. Ia ingin fokus kuliah dan menyelesaikan skripsinya. Ia  juga tak suka dengan citra Korea, grup atau boyband yang melekat pada ajang tersebut. Tapi rasa penasaran membawanya mengikuti audisi.

Berkenakan kaos dan celana jeans, Jeje berbaur dengan seribuan pengantri lainnya. Entah apa yang dilihat kru acara tersebut pada dirinya, ia dipanggil untuk berbaris di antrian sepuluh orang terdepan. “Like a monster, maybe,” ungkapnya singkat sambil tertawa. Sampai di dalam ruang audisi pun Jeje tak tahu harus apa. Sekadar menyanyikan lagu yang terlintas di otak. Sayang, ia tak ingat lagu apa yang ia bawakan.

Jeje kemudian dinyatakan lulus. Menurutnya, faktor keberuntungan yang membuatnya terpilih. Setelah lulus, Jeje kembali melalui seleksi untuk mengikuti karantina di Jakarta. Ia kemudian dinyatakan lolos bersama empat orang lainnya. Selama menjalani karantina, Jeje kembali melewati proses seleksi untuk karantina di Korea. Bersama satu orang perwakilan Medan, Jeje terpilih menjadi satu dari sebelas orang untuk menimba ilmu di Korea. Di sana pun para peserta masih melewati proses seleksi.

Jeje bercerita tentang banyaknya ilmu yang ia dapat selama di Korea, terutama soal pembentukan karakter. Katanya Korea adalah negara pekerja keras. Tidak mengenal kata lelah, putus asa dan malas. Misalkan masih ada waktu, pasti digunakan semaksimal mungkin. Pola pikir dan pola hidup yang teratur di sana menjadi pelajaran utama. Korea mengubahnya menjadi pribadi yang tak lagi sembarangan seperti dulu.

Semua yang ia raup selama di Korea pun ia aplikasikan untuk urusan akademis. Ia mencontohkan dirinya dulu sebagai mahasiswa yang memilih jalan-jalan setelah kuliah, belajar ketika akan ujian atau sistem kebut semalam. Sementara di Korea, belajar ibarat menabung. Belajar sekarang berarti menabung sekarang. Jadi tidak ada salahnya di satu hari luangkan 2-4 jam untuk baca materi kuliah. “Lebih memaksimalkan waktu sih,” singkat Jeje.

“Sebenarnya yang pengin diubah adalah umur. Aku ingin lebih muda, biar bisa berkarya lebih banyak,” ungkapnya. Jeje menyesal pernah menyia-nyiakan waktu ketika umur 16 dan 17 tahun. Dulu, ia bilang lebih banyak haha-hihi. Enggak konsentrasi kuliah. Ia berandai jika usianya masih muda, ia mau belajar keras agar cepat tamat dan fokus ke hal yang lain.

Kini Jeje juga tengah fokus menyelesaikan studi S1-nya sembari menjalankan kesibukannya bersama S4. Proses yang ia jalani selama ini menjadi salah satu faktor yang mendorongnya kembali ke kampus. Pengalaman di Korea mengajarkannya untuk berjuang keras memperoleh impian.

Ia tak sepakat kalau pendidikan tidak penting bagi seorang artis. Ia sadar kalau pendidikan luar biasa penting. “Itu alasanku balik, sebenarnya,” kata Jeje. Baginya seterkenal dan sekaya apa pun kita, kalau tidak berilmu, tidak akan bisa dikelola dengan baik. Ia memisalkan, kalau kita punya uang seribu, bisa jadi sepuluh ribu kalau kita punya ilmu. Sebaliknya, jika kita bodoh dalam cara berpikir sepuluh ribu bisa berkurang bahkan nol.

Usai meraih gelar sarjana S1, Jeje berpikir untuk menyempatkan waktu melanjutkan S2 di Jakarta. “Karena pendidikan gak kenal batas,” tuturnya. Ia punya banyak impian dan target karir. Impian utamanya menjadi orang yang berhasil dalam hal apa saja serta dikenal dan dihargai di negeri sendiri. “Manusia harus punya seribu cita-cita,” tegasnya.

Windi Adwina Siregar mengenal Jeje sebagai sosok yang sangat ambisius. Windi adalah pengurus radio milik FISIP, termpat Jeje pernah bernaung. Kata Windi, Jeje memiliki banyak keinginan. Terkadang sifat ambisiusnya cenderung negatif karena membuatnya tidak bertahan di satu tempat dalam waktu yang lama. “Ada beberapa tanggungjawab di tempat lain yang jadi terbangkalai,” ujarnya

Selain itu, menurut Windi dari dulu sepertinya Jeje ingin menjadi artis. Terlihat dari seringnya ia mengikuti ajang pemilihan. Mungkin, S4 adalah yang benar-benar Jeje mau. Ia berpesan bahwa pendidikan tetap nomor satu dan Jeje harus selalu rendah hati.

Dulunya Anti Boyband

Pulang ke Indonesia dengan label boyband bernama S4 merupakan suatu tekanan bagi Jeje, pun ketiga temannya. Apalagi teman-teman dekatnya tahu kalau ia tak suka boyband. “Oh my God. I’m a boyband,” katanya ekspresif. Jeje mengaku sempat terpikir untuk mundur ketika diumumkan menjadi anggota boyband sewaktu final, tapi urung ia lakukan.

Hal yang mengubah prinsipnya adalah kerasnya dunia hiburan Korea. Calon artis di Korea sudah dipersiapkan selama puluhan tahun, bukan dadakan. Banyak anggapan bahwa Korea aji mumpung. Dibalik itu, publik tidak tahu kalau orang Korea memiliki kerja keras dan semangat juang yang luar biasa.

Jeje kemudian bercerita tentang manajemen artis tempat S4 bernaung bersama beberapa artis Korea seperti grup band Beast dan girlband 4Minute. Di situ, calon artisnya melewati masa training sekitar 6 sampai 8 tahun dan tidak karbit. Bisa saja mereka tidak jadi artis kalau di pertengahan tahun mereka gagal atau menurun kualitasnya.

Fakta ini yang menghentak Jeje untuk sebisa mungkin mewujudkan impiannya. “Jadi kalau punya impian, sebisa mungkin harus dapat,” pungkas Jeje.

Kini, Jeje dan S4

30 Oktober, setahun yang lalu adalah pertama kalinya S4 muncul di depan masyarakat Indonesia. Orang Korea biasa menyebutnya debut. Deg-degan karena takut melakukan kesalahan bercampur excited mewarnai perasaan Jeje. Kala itu, ia dan tiga temannya sadar akan citra buruk boyband di Indonesia. “Kita berempat bilang, kalau Indonesia menganggap image buruk tentang grup, kita buktikan kita gak seperti yang mereka bilang”, jelas Jeje.

Berada di satu panggung dengan salah satu boyband ternama, tak ayal sempat membuat S4 merasa down. Fans mereka tak sebanyak boyband tersebut. “Cuma kita berpikir, gak ada yang gak mungkin, selama kita mau”, katanya tegas.

Tergabung dalam sebuah grup pun memberi Jeje banyak pelajaran. Salah satunya tentang menghargai orang lain. Ibaratnya, kata Jeje, ketika ia perform, ada lighting, sound, stage dan kru-kru lain yang membantu. Kalau kita sendiri, enggak akan bisa menampilkan yang terbaik. Karena orang-orang di sekitarnya juga yang membuatnya maksimal.

Pelajaran lain yang ia dapat setelah menjadi personil S4 adalah mengalah daripada bertahan dengan opini. Ia selalu ingat perkataan ibunya bahwa mengalah bukan berarti kalah. “Mengalah bisa jadi menang. Bukan menang sekarang, tapi menabung untuk menang hari esok”, ungkap Jeje.

Jeje bilang tak banyak yang berbeda antara Jeje yang dulu dan sekarang. Pembedanya ialah status dan cara berpikir. Dulu, ia adalah sosok yang childish, yang memandang satu hal sebelah mata tanpa memikirkan akibatnya. “Terus dulu kurang menghargai orang dalam hal apapun. Sekarang melihat orang-orang sekecil apapun ternyata bantuannya besar”, tuturnya.

Do the best. Kalau kita gak bisa melakukan yang terbaik, ingat orang-orang di belakang kita. Lebih banyak bersyukur dan bekerja keras”, pungkas Jeje.

 diposting juga di >> http://suarausu.co/index.php?option=com_content&view=article&id=2055

SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

2 komentar:

  1. wah artikelnya keren~
    izin reblog ya di http://raffa-rasifa.blogspot.com ^^

    salam #S4US

    BalasHapus