Infotainment, Si ‘Anak Haram’ Jurnalisme




Program tersebut dipandu oleh seorang presenter cantik berperawakan bak model. Ia berdiri tegak sempurna, dengan tatapan tajam dan suara tegas, ia siap membuka acara dengan kalimat ‘pelopor jurnalisme infotainment’. Saya hanya tersenyum ketus tiap kali remote televisi saya terhenti pada program itu dan mendengar tagline-nya. Sebuah program infotainment berusia 17 tahun, kepemilikan raja infotainment berinisial IB yang juga memproduseri beberapa program serupa.
Entah sejak kapan jurnalisme infotainment ini ada. Tiga tahun belajar jurnalisme dan hampir empat tahun duduk di bangku Ilmu Komunikasi USU, saya tak belajar jenis jurnalisme ini. Buatlah jenis ini memang ada dan saya tak tahu, saya justru heran kenapa bisa ada. Heran kenapa infotainment tersebut bisa dengan percaya diri menasbihkan diri sebagai pelopor jurnalisme infotainment.
Sadarkah mereka -praktisi infotainment- kalau programnya jauh dari pantas menjadi anak jurnalisme?
            Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme -kitabnya para wartawan- milik Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dituliskan tujuan utama jurnalisme. Yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri. Nah loh, tujuan saja sudah tak sedarah. Infotainment bertujuan untuk mengungkap kehidupan selebriti.
Pertanyaannya, apa warga bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri dengan terungkapnya kehidupan selebriti? Jelas tidak. Selebriti hanya orang biasa yang berprofesi sebagai seorang artis, tak beda dengan profesi lain, semisal pegawai bank. Selebriti memang public figure, tapi mereka bukan pejabat negara yang hidup dengan  anggaran dan fasilitas negara hingga penting bagi warga untuk tahu kehidupan mereka.
            Untuk melihat kepantasan infotainment sebagai anak dari jurnalisme, kita bisa lakukan tes kecocokan DNA-nya melalui beberapa poin pada sembilan elemen jurnalisme.
Pertama, jurnalisme berkiblat pada kebenaran. ‘Artis X digosipkan berpacaran dengan artis Y’, begitu contoh kabar infotainment. Pembawa acara infotainment saja sering mengatakan hal yang mereka sampaikan adalah sebuah gosip. Anehnya, bahkan terkadang si artis saja tak tahu tentang kabar yang menimpa dirinya, dan baru mengetahuinya dari si pewawancara. Bahkan di beberapa talkshow, artis sering mengeluhkan pemberitaan infotainment yang mereka anggap tak sesuai dengan apa yang sebenarnya.
Fitri Tropica dalam buku Kening miliknya pernah merasa absurd ketika kisah percintaannya dengan seorang aktor berwajah arab ditayangkan di infotainment. Begini petikan tulisannya “gak pernah kepikiran sedikitpun kalo suatu hari gue akan negliat sendiri fase hidup gue direkam, di-rewind, di-replay, dan di-review sebegitu rupa di televisi. .... Coba bayangin deh, kehidupan lo di-capture, dimasukkin dan diputar berulang-kali di dalam TV lalu dibahas sama orang-orang seolah-olah mereka tau banget kehidupan, isi kepala sama hati lo. Dan begitu ada hal yang gak sesuai banget sama kenyataannya lo cuma bisa teriak pasrah “Yeeee sok tau!” ke arah TV..... Sepenting itukah love life gue buat dibahas? Bukannya sok kece sih, selain rasanya gue gak cocok aja gitu dibahas di infotainment dengan berita lovey-dovey ala Zac Effron dan Vanesaa Hudgens, ternyata untuk pemberitaan itu ada cost yang harus gue bayar, bukan pake materi tapi mental”. Lihat! Narasi yang berlebihan, pemotongan pada hasil wawancara hingga menimbulkan berita yang berbeda kerap dikeluhkan para artis. Mereka saja kesal dan gerah dengan infotainment. Infotainment mengabarkan sesuatu yang mereka dengar dan belum pasti kebenarannya. Sementara jurnalisme harus mengabarkan sesuatu yang sudah jelas kebenarannya. Bukan hanya sekedar hal yang ‘dikabarkan’ tapi sudah sebuah ‘kebenaran’. Tes pertama hasilnya tak cocok!

                                           
            Poin kedua pada sembilan elemen jurnalisme adalah loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat. Bukan hal tabu jika infotainment jadi media tempaan para artis. Mereka memanfaatkan infotainment untuk menaikkan nama. Sengaja mengundang infotainment ketika mereka melakukan kegiatan sosial atau yang paling tren saat ini, membuat kabar setting-an dan memanfaatkan infotainment. Jelas, loyalitas infotainment bukan pada masyarakat. Tapi bagi segelintir orang yang punya kepentingan, dalam hal ini seorang artis. Akhirnya, masyarakat yang kemudian menikmati mini opera sabun ini dan berakhir pada bermacam efek. Pembodohan! Tes kedua, beri stempel failed!
            Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Begitu bunyi poin ketiga kitab jurnalisme ini. Baru-baru ini, di infotainment ramai kabar seorang calon presiden yang berlibur dengan dua artis wanita yang kakak-beradik. Video tersebut dibuat tahun 2010 dan baru beredar sekarang kemudian ramai di infotainment, entah bagaimana caranya. Tapi yang jelas, kabar tersebut menimbulkan banyak sekali spekulasi. Penyebabnya, infotainment menayangkan video tersebut berulang-ulang, dengan narasi yang dibuat pun berdasarkan spekulasi sendiri tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu ke si pelaku, seperti yang seharusnya jurnalisme lakukan. Hingga akhirnya si artis dan si calon presiden melakukan klarifikasi dan mengadakan jumpa pers. Itu pun, infotainment-nya diundang, bukan mencari si narasumber untuk verifikasi. Hanya sekedar mengabarkan klarifikasi artis yang sudah kebakaran jenggot. Dalam praktik jurnalisme, pekerja jurnalistik tak dibenarkan menerbitkan sebuah berita sebelum melakukan verifikasi pada narasumber. Tapi infotainment melakukannya dengan mudah. Hal ini juga yang memicu kekesalan para artis. Ketika mereka tak merasa diwawancara, tapi kabar tentang dirinya ramai sana-sini. Poin ketiga, tetoott!
            Poin-poin selanjutnya berisi praktisi jurnalisme harus menjaga independensi terhadap sumber berita, jurnalisme harus menjadi pemantau kekuasaan, jurnalisme harus menyediakan forum kritik maupun dukungan masyarakat, jurnalisme harus berupaya keras untuk membuat hal yang penting menarik dan relevan. Kemudian jurnalisme harus menyiarkan berita kompeherensif dan proporsional dan praktisi jurnalisme harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka. Poin-poin ini pula yang tidak dimiliki infotainment, yang jelas bisa jadi media bayaran para artis dan sama sekali bukan pemantau kekuasaan. Infotainment memang menyajikan kabar yang menarik tapi tak relevan.
            Anak dari sebuah jurnalisme haruslah sesuatu yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Berpengaruh terhadap stabilitas dan jalannya kehidupan bangsa dan negara. Produk dari jurnalisme adalah sebuah berita. Jika infotainment bukanlah sebuah jurnalisme, maka yang ia hasilkan bukan juga berita namun sebuah hiburan. Wartawan adalah para pelaku jurnalisme dan pegiat jurnalistik, jika infotainment bukan sebuah jurnalisme maka pelaku dan pegiatnya juga bukan seorang wartawan.
Lalu mengapa istilah jurnalisme infotainment masih bertahan sampai saat ini? Jawabnya karena masih ada perbedaan pendapat di tubuh para pemerhati dan aktivis jurnalistik. Berita pada laman liputan6.com menuliskan “masalah infotainment belum selesai juga. Setelah PWI Pusat menyatakan infotaiment masuk dalam ranah jurnalistik, kini giliran Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menolaknya. Menurut Ketua Umum AJI Nezar Patria dalam siaran persnya, Rabu (21/7), tayangan gosip yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dan tak terkait kepentingan umum bukanlah karya jurnalistik.
Kemudian dituliskan pula “sebelumnya, pelaku industri infotainment Ilham Bintang menyatakan infotainment adalah produk jurnalistik. Bahkan, dia sempat menuding Rapat Dengar Pendapat DPR dan KPI serta Dewan Pers adalah gerakan yang hendak merampas kemerdekaan pers”. Entah kemerdekaan pers mana yang dibicarakan si raja infotainment ini. Mungkin ia mengartikan merdeka dengan cara bebas melanggar kaidah-kaidah yang ada dan membodohi publik.
            Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah mengapa infotainment masih terus bertahan bahkan bertambah banyak? Jawabnya karena masyarakat masih meminatinya. Saya pernah punya pengalaman menulis profil senior saya yang merupakan personil sebuah boyband. Sebutlah dia artis. Ketika berita tersebut naik dan di-share di akun Twitter Pers Mahasiswa SUARA USU dan kemudian di-retweet si artis, berita tersebut langsung ramai di-share di sana-sini. Saya, si penulis saja tercengang tulisan saya di-retweet entah sampai ke akun-akun mana.
Saya juga sering iseng cari berita-berita artis yang tengah panas di Twitter. Benar saja, share- nya tinggi. Perdetiknya puluhan orang tengah membicarakan. Media televisi juga tak bodoh dan jelas tak mau rugi. Jika tak mendatangkan keuntungan, mana mungkin program infotainment ditayangkan seperti minum obat tiga kali sehari, bahkan lebih. Kembali, masyarakat lah yang harus pintar menggunakan remot televisinya. Ibarat manusia, tes DNA dinyatakan infotainment dan jurnalisme tidak cocok setetes pun. Maka infotainment bukanlah anak jurnalisme. Jika ia tetap mengaku-ngaku, maka saya anggap infotainment adalah anak haram jurnalisme. Ayo lah, apa pentingnya isi tas Syahrini? Menjadi kaya kah negara ini ketika Syahrini membawa emas batangan 24 karat di tasnya?


SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar