Aku punya tempat untuk pulang. Aku bersyukur. Sangat.
Tapi ternyata tempat itu bukan rumah. Hanya satu orang di dalamnya yang menjadi rumahku.
Aku terus mengkaji. Aku terus memutar memori. Aku terus menilik diriku.
Aku bahkan enggak tahu bagaimana rasa hangat sebuah pelukan.
Dari sebuah dada yang lebar, pundak yang kokoh, tangan yang kuat namun memiliki sentuhan menenangkan.
Seperti apa ya rasa hangatnya?
Aku pikir caraku mendefinisikan sudah tepat. Ternyata ada satu bagian yang kosong. Dan kita sudah usang.
Sampai pekan lalu, aku masih menangis sesenggukan. Tapi hari ini, justru yang muncul adalah rasa muak.
Sungguh tidak ingin jadi seorang yang tak punya rasa syukur. Apalagi sampai membenci.
Aku pikir lengkap. Ternyata tak utuh.
21/08/2024. 18.55

0 komentar:
Posting Komentar