Saya termasuk orang yang rutin merapikan lemari. Merapikan dalam arti menyisihkan barang-barang yang sudah tidak terpakai. Karena saya enggak betah lihat lemari penuh, lihat barang yang sudah enggak pernah dipakai masih di dalam lemari. Semua barang yang disisihkan masih layak pakai, cuma sudah kekecilan, sudah tidak nyaman dipakai atau memang sudah enggak sesuai dengan kebutuhan.
Prinsip saya, setiap saya beli barang baru, harus ada barang lama yang disisihkan. Barang-barang saya jauh dari kategori mahal. Sangat jauh. Kalau orang-orang bilang “gak apa mahal, yang penting awet”, justru saya mikirnya “harganya murah, beli beberapa, pakai bergantian, jadi awet”. Misalnya orang beli sepatu harga 100ribu/pasang, beli satu, pakai terus-terusan. Saya memilih beli sepatu harga 35ribu/pasang, beli beberapa pasang, pakai bergantian. Logic enough?
Barang-barang yang saya sisihkan, biasanya saya berikan ke uak yang bantu-bantu di rumah, baik saya kasih secara langsung atau saya letakkan di meja luar rumah biar beliau ambil saja.
Dan apa yang selalu saya lihat? Wajah bahagia si uak setiap lihat barang-barang yang saya sisihkan. “Masih bagus ini Nda”, “ini tinggal dicuci aja”, “ini tinggal dijahit sedikit”. Ia bisa menemukan cara untuk membuatnya menjadi berharga. Sementara saya, masih suka mengeluh enggak punya baju, enggak punya sepatu dsb kalau mau bepergian. Tiap ada acara apa, rasanya pengen beli baju baru. Astagfirullah..
Dengan barang-barang yang saya sisihkan, i can see the twinkle in her eyes. Ternyata, sesuatu yang kita anggap sudah tidak berharga, bisa menjadi harapan baru bagi orang lain.
0 komentar:
Posting Komentar