Hai Tuan Protektif. Apa kabar? Sepertinya tubuhmu sudah kembali kuat setelah lelah melawan si virus menyebalkan.
Sudah 6 tahun mengenal. Kau sudah mengemban posisi penting. Tapi tetap tak ada yg berubah darimu. Kau, masih pria yg suka mengejek dan mengusiliku. Pria baik hati, yg bahkan diam-diam memberi makan seekor kucing. Anak baik budi yg selalu ingat dan lakukan pesan orangtuanya. Masih pria yg suka curi-curi pandang padaku. Selalu diam-diam menurutiku meski harus mendebat dahulu. Orang yang paling takut berhutang budi, takut merepotkan orang lain. Pria yg takut jadi sasaran ambekan ku. Semua sama. Kecuali, komunikasi kita..
Tuan, sebenarnya banyak hal tentang perasaanku terhadapmu yang bisa ku tuliskan. Tapi kalau ku ingat-ingat, aku memang selalu seperti itu setiap kali jatuh cinta. Proses olah rasaku (harusnya) tetap sama.
Saat putus komunikasi 4 tahun lalu, aku begitu yakin bahwa aku sudah benar-benar melupakanmu. Tapi ternyata pertemuan setahun sekali kita berhasil menghadirkan rasa itu.
Begitulah olah rasaku. Aku tak benar-benar bisa menyerah sebelum tuanku menemukan nyonyanya.
Setiap kali aku menceritakan tentangmu, rasa itu justru kembali kuat. Setiap bertemu denganmu, aku sadar rasa itu memang tidak pernah pergi.
Tapi, 2 tahun belakangan ini, kekuatan rasa itu tidak bisa ku bendung. Kerap rindu, khawatir dan bahkan menangis. Aku, tak pernah menangisi cinta, termasuk pada tuan-tuan sebelumnya. Sekalipun tidak. Tapi untukmu, aku menangis. Memimpikanmu berkali-kali. Bahkan emosiku menjadi tidak baik ketika bangun dari mimpi kau punya wanita lain. Terjadi di mimpi tapi cemburunya nyata. Ada keresahan yang timbul jika membayangkanmu punya seseorang yg lain.
Kau, pria asing pertama yg ku sebut dalam doaku. Aku bermunajat atas namamu. Aku seperti tak sanggup kehilangan namun pula tak punya daya untuk dapat memiliki. Ku (sedang berusaha) menyerahkan urusan hatimu pada pemiliknya. Mengikhlaskan rasaku.
Kenapa kau sungguh berbeda? Sebelumnya, aku lebih mudah terbiasa jika ada jarak. Tapi mengapa padamu teori ini tak berlaku? Sebelumnya aku tak cemburu jika ada seseorang lain. Tapi mengapa kali ini hatiku terbakar, bahkan itu hanya sebuah mimpi.
Berkali-kali aku katakan pada hatiku untuk melepaskanmu. Tapi hati ini juga yg kerap merindukanmu. Aku juga bingung maunya apa.
Tuan protektif. Kalau boleh egois, aku ingin memaksakan kehendakku pada Tuhan untuk memilikimu. Tapi aku ingin Tuhan memberiku seseorang yg terbaik menurutNya. Dan itu bisa saja bukan kau. Tapi aku ingin. Ah, dasar manusia!
Tuan protektif. Hai. Sedang apa? Capek gak? Udah coba-coba makan sayur belum? Badannya jangan diforsir ya. Tau kok kamu itu perfeksionis, loyal, tapi badannya kan tetap punya hak untuk sehat.
Tuan protektif. Rindu..
0 komentar:
Posting Komentar