Gak tau mau kasi judul apa

Seandainya jarak tiada berarti, akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja. Seandainya sang waktu dapat mengerti, takkan ada rindu yang terus mengganggu.

Halo.. Aku kangen..

Di atas itu, refrain lagu LDR – Raisa, yang membawaku pada rasa yang susah payah ku netralisir. Kau sudah dengar lagunya? Ku sarankan jangan. Ah, tapi kan kau tidak semelankolis itu.

Mendengarkan lagu ini membuat aku kembali mengingat tentang kita, yang telah menyerah pada jarak. Kembali pada aku yang tidak mengerti kita ini apa dan bagaimana.

Bagaimana menjelaskan rasa ini? Bisa bantu aku?

Rasa yang aku tidak mengerti apa ini karena ulahku sendiri. Tapi, jawaban spontan, serentak kita bahwa kita tak kuasa melawan jarak, masih sangat ku ingat jelas. Padahal ketika itu aku tak benar-benar serius. Jangan tertawa!

Setelah pukul 7 malam awal bulan itu, aku yakin kita (akan) sudah selesai. Oh ya, sampai saat ini aku masih penasaran dengan apa yang kau katakan malam itu? Aku tidak bisa membaca bahasa bibirmu. Tapi aku ingat tawa nakalmu. Kau bilang apa waktu itu?

Beberapa bulan kemudian, kita seakan kembali menanam harap. Rasanya indah. Jangan tersenyum! Namun kembali pukul 7 malam bekerjasama dengan jarak, meniadakan kita.

Aku lupa kau pelan-pelan. Rasanya sulit. Aku pikir kau pun begitu. Aku bilang jangan tersenyum!

Tapi terkadang aku merasa kau tak pernah membiarkan aku berjalan tanpamu. Mengetahui kau tau segalanya tentangku dari dunia maya, kau ikuti setiap isi hati dan pikiranku, membuatku menggila.

Kita ini sebenarnya mau jadi apa dan harus bagaimana? Ataukah ini kerisauan yang ku ciptakan sendiri? Tapi aku tak setidak peka itu, sampai tak bisa membaca perhatian diam-diammu.

Aku benci kata seandainya, kau benci kata seandainya dan kita benci kata seandainya.

Sekarang aku juga menyimpan ingatan gundah pada jam 7 malam.

Bagaimana caranya memberitahumu untuk memberitahuku apa yang harus ku lakukan?

Sejak ikrar itu, kita sengaja memutus komunikasi. Aku tak mau terlihat bodoh memulainya.

Haruskan aku secara paksa melarangmu untuk mengikuti jalanku?

Aku...hanya ingin bicara, Tuan Januari!
SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar