Inti dari menulis
adalah mulai menulis. Kalimat ini disampaikan Arief Muhammad atau lebih di
kenal dengan Poconggg pada acara Talkshow Bareng Poconggg Menulis Kreatif, Menghijaukan Kehidupan, Jumat 4 Mei 2012 lalu. Alasannya,
kata Arief, banyak orang yang ingin menulis, tapi tak pernah memulainya karena
satu dan lain hal. Enggak bisa nulis lah,
takut tulisannya jelek lah, atau
takut tidak disukai orang. Arief bilang lagi, kalau terus memikirkan penilaian
orang lain, kita tidak akan pernah menulis, karena setiap orang punya
subjektifitas sendiri. Satu quote dari Arief, ia bilang “dengan menulis kamu
sudah menang terhadap diri kamu sendiri”.
Arief Muhammad terkenal dengan akun
twitternya @poconggg dan semakin dikenal setelah ia menerbitkan bukunya yang
berjudul Poconggg Juga Pocong. Subjektifitas
saya setelah baca buku tersebut adalah buku ini ngaco! Menceritakan kehidupan seikat pocong yang sudah pasti hanya
fiktif. Tapi, kenapa buku ini laris dipasaran? Jawabnya karena adanya semangat
dan keinginan kuat dari si empunya buku untuk menulis dan tulisannya dibaca
oleh orang banyak. Begitu juga diakui Arief.
Selain Arief, kita bisa menegok ke
penulis muda lain yang tak kalah ngaco-nya
dengan Arief, yakni Radityadika.Ia juga terkenal lewat novel pertamanya Kambing Jantan. Novel ini kesemua isinya
adalah tulisan di blognya dan menceritakan kehidupan sehari-harinya. Apa
pentingnya kehidupan orang lain untuk kita baca? Nilai plus-nya, Radityadika menuliskan dengan apik kehidupan absurd-nya dengan bumbu pesan-pesan
moril ditiap bab ceritanya. Sama seperti Arief, kemauan Radityadika yang
membuatnya bisa seperti sekarang. Bisa dilihat, bagaimana kehidupan mereka
sekarang? Sangat layak. Banyak artikel menuliskan tentang mereka. Banyak media
mengekspose mereka. Banyak wartawan merangkai berita tentang mereka.
Hanya dari dua contoh diatas,
terlihat betapa menggiurkannya kegiatan tulis menulis. Masih banyak contoh
penulis lain yang kini, banyak orang menulis tentangnya. Dari dulu dikatakan
‘membaca adalah jendela dunia’ tapi sekarang, bagi saya ‘menulis adalah jendela
dunia’. Untuk bisa menulis dengan baik, kita harus membaca banyak referensi dari
buku.
Sebagai seorang mahasiswa Ilmu
Komunikasi, saya merasa alangkah baiknya memaksimalkan kegiatan menulis untuk
mampu berkomunikasi ke seluruh dunia, mungkin. Berkomunikasi dalam arti berbagi
tentang kehidupan pribadi atau bahkan kehidupan negara. Tak hanya berlaku bagi
mahasiswa Ilmu Komunikasi, tapi bagi semua orang yang ingin ‘menaklukkan’
dunia. Hal yang pasti sangat
sulit jika hanya mengharapkan kedua kaki. Bukan tidak
mungkin, menulis yang nantinya akan membawa kedua kaki berkeliling dunia.
Menurut buku Jurnalisme Dibungkam, Sastra Berbicara karya Seno Gumira Adjidarma,
menulis sastra khususnya mampu mencuatkan kebenaran yang tak bisa diobral oleh
para jurnalis melalui beritanya. Contoh, konflik Timor-Timor beberapa tahun
lalu, banyak sekali kejadian tidak manusiawi yang tak bisa dideskripsikan oleh
wartawan karena larangan dari kantor redaksi mereka. Tapi Seno Gumira, milih
menginformasikan betapa kejamnya konflik tersebut melalui sebuah puisi. Untuk
menyampaikan banyak hal yang tidak bisa diungkapkan melalui berita, tapi dengan
menulis dengan karya sastra, kebenaran dapai diungkap.
Mungkin sekarang kau yang akan menuliskan tentang dunia. Kau yang
harus ‘mengemis’ ke dunia untuk terus membagi cerita. Baik dunia pribadimu
maupun dunia luas. Tapi,
yakin suatu saat nanti, dunia yang akan sebaliknya menuliskan tentangmu. Jadi,
masihkah menemukan celah negatif dari menulis?
0 komentar:
Posting Komentar