Peterpan, Tink, Wendy dan Kamu




Kini pelangi hanya sebuah garis putus-putus. Aku pernah bilang, ketika itu terjadi aku dan kau tak pernah menjadi ‘kita’. Aku akan melupakanmu. Sekarang, aku benar telah melakukannya. Bertemu dengan orang asing –yang juga pernah ku ceritakan- semakin membantuku. Dia berhasil menggantikan posisimu. Entah posisi yang mana yang sedang aku bicarakan. Tapi yang jelas, kau tak lagi, bukan kau lagi.

Aku juga pernah bilang akan melupakan si orang asing. Sama seperti padamu dulu, aku tak benar-benar melupakannya. Tak semudah dan secepat keinginanku. Karena aku setia, seperti yang pernah aku ceritakan juga. Aku tegaskan, orang asing itu masih begitu akrab di hati.

Kau juga sudah bersama ‘nya’. Aku masih membenahi hati dengan si orang asing. Kalian sudah berkomitmen. Sedangkan kami pernah berkeinginan, tapi takut untuk mencoba. Kami takut pada jarak. Di bagian ini, aku, kami iri pada kalian. Andai jarak tak semengerikan ini, mungkin.. ah sudahlah! Membayangkannya membuatku melempem.

Kita masing-masing sudah menemukan kebutuhan hati sendiri-sendiri. Sadarku bilang aku tak pernah sekalipun mengusik kalian, seperti yang pernah aku tuliskan dulu. Itu hanya berhenti pada sebuah tulisan. Nyatanya tidak. Tapi kau tidak begitu. Kau tak cukup kooperatif. Aku sedang lengah, mudah goyah. Kalau aku tak hapal sifatmu, mungkin aku sudah terjatuh (lagi) ke pelukanmu. Tapi aku ingat ‘nya’mu dan si orang asingku. Aku, kita, sama-sama tau mereka bahan pangan hati masing-masing.

Kau tau, teman-temanku sudah mengutukmu. Memaksaku memberitahu ‘nya’ tentang kelakuanmu. Mereka bilang, aku jahat kalau tau lapor. Tapi aku masih menyimpan peduli padamu. Walau sejujurnya tak punya keberanian.

Aku, lagi-lagi yang mengalah. Menjauh, menghindari, lari, apa sajalah namanya. Demi siapa? Bukan demi kau, tapi demi diriku sendiri! Tuan Peterpan, silahkan cari Tinkerbell yang lain. Aku, tak lagi digenggamanmu..
 
SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar