Kini pelangi
hanya sebuah garis putus-putus. Aku pernah bilang, ketika itu terjadi aku dan
kau tak pernah menjadi ‘kita’. Aku akan melupakanmu. Sekarang, aku benar telah
melakukannya. Bertemu dengan orang asing –yang juga pernah ku ceritakan-
semakin membantuku. Dia berhasil menggantikan posisimu. Entah posisi yang mana
yang sedang aku bicarakan. Tapi yang jelas, kau tak lagi, bukan kau lagi.
Aku juga pernah
bilang akan melupakan si orang asing. Sama seperti padamu dulu, aku tak
benar-benar melupakannya. Tak semudah dan secepat keinginanku. Karena aku
setia, seperti yang pernah aku ceritakan juga. Aku tegaskan, orang asing itu
masih begitu akrab di hati.
Kau juga sudah
bersama ‘nya’. Aku masih membenahi hati dengan si orang asing. Kalian sudah
berkomitmen. Sedangkan kami pernah berkeinginan, tapi takut untuk mencoba. Kami
takut pada jarak. Di bagian ini, aku, kami iri pada kalian. Andai jarak tak
semengerikan ini, mungkin.. ah sudahlah! Membayangkannya membuatku melempem.
Kita
masing-masing sudah menemukan kebutuhan hati sendiri-sendiri. Sadarku bilang
aku tak pernah sekalipun mengusik kalian, seperti yang pernah aku tuliskan
dulu. Itu hanya berhenti pada sebuah tulisan. Nyatanya tidak. Tapi kau tidak
begitu. Kau tak cukup kooperatif. Aku sedang lengah, mudah goyah. Kalau aku tak
hapal sifatmu, mungkin aku sudah terjatuh (lagi) ke pelukanmu. Tapi aku ingat
‘nya’mu dan si orang asingku. Aku, kita, sama-sama tau mereka bahan pangan hati
masing-masing.
Kau tau,
teman-temanku sudah mengutukmu. Memaksaku memberitahu ‘nya’ tentang kelakuanmu.
Mereka bilang, aku jahat kalau tau lapor. Tapi aku masih menyimpan peduli
padamu. Walau sejujurnya tak punya keberanian.
Aku, lagi-lagi
yang mengalah. Menjauh, menghindari, lari, apa sajalah namanya. Demi siapa?
Bukan demi kau, tapi demi diriku sendiri! Tuan Peterpan, silahkan cari
Tinkerbell yang lain. Aku, tak lagi digenggamanmu..
0 komentar:
Posting Komentar