Siapa namamu?



Kebiasaan burukku adalah melupakan pertama kalinya aku membuka percakapan atau melihat seseorang. Sama seperti padamu. Tapi rasa-rasanya setelah hampir setahun kuliah. Aku melihatmu dari jauh dan sekilas lalu. Pertemuan berikutnya lebih nyata. Memang seperti itulah. Kita pasti akan menjadi sering melihat seseorang yang baru kita kenal. Padahal sebelumnya kita seakan tak pernah melihatnya. Tapi yang aku ceritakan tentang kapan aku melihatmu, masih sebuah kemungkinan.

Aku suka hidungmu. Mancung dan runcing. Terlihat tegas jika dilihat dari samping. Ini membuat cekung matamu menjadi lumayan dalam. Sendu. Lagi, aku suka bibirmu. Tipis dan mungil untuk ukuran pria asia. Kulitmu yang berwarna sawo matang membuat manis ala priamu bertambah. Maaf karena aku tak mampu mendeskripsikanmu dengan baik.

Entah sudah ke berapa kalinya kita bertemu. Semua jelas karena ketidaksengajaan. Pasalnya, kita tak saling mengenal. Tapi aku tau dimana aku akan dengan mudah menemukanmu. Lucunya, aku bahkan tak yakin kau mengingatku atau menganggapku sering berpapasan denganmu. Sering langkah kita bertemu. Pandang kita tak sengaja bertabrakan. Senyuman sesekali saling kita lempar, itu pun kalau kau sedang bersama orang yang ku kenal. 

Anehnya kadang aku tak menyadari hadirmu didekatku, tapi ketika aku memalingkan wajah, tatap kita bertemu. Aku bahkan pernah melihatmu di tempat yang tak disangka. Pernah kita hampir bertabrakan. Kau tau, ketika itu entah apa yang terjadi di dalam sini. Mulutku bungkam. Aku tak punya keberanian menatap wajahmu sedekat itu. Hanya menundukkan wajah dan hampir tenggelam di dadamu. Sayang kau tak doyan memakai parfum, mungkin. Kalau tidak, aku pasti ingat aromanya. 

Pernah juga aku melihatmu duduk di depan kelasku. Kakiku terpaku saat membuka pintu dan melihatmu tepat di depan. Reaksi aneh keluar refleks. Aku beri kode pada temanku, menunjukmu dengan memajukan mulutku. Beritahu kalau kau tepat di depanku. Aku berani karena ketika itu kau melihat ke arah berlawanan. Sialnya, saat aku memberi kode, kau membalikkan kepalamu ke arahku. Aku, jelas salah tingkah. Berbelok dan berjalan cepat menjauh. Entah kau menyadari atau tidak akan hal ini.

Kau, yang kami sebut K*s**k*p. Siapa namamu? Hampir tiga tahun aku diam-diam memerhatikanmu, tapi bodohnya aku belum berhasil tau namamu. Mencari namamu di daftar nama mahasiswa sudah ku lakukan. Tapi gagal. Harapan terakhir tinggal bertanya pada temanku yang akrab denganmu. Tapi gengsi dan bingung mau beralibi apa aku nanti. 

Aneh bukan? Kita tak saling kenal. Tau nama saja tidak. Tapi aku begitu memerhatikanmu. Atau kau yang mencurinya? Bahkan, lihat! Sekarang aku menulis tentangmu. Ini bukti kalau nama tak selamanya bermakna. Termasuk namamu. Toh, tanpa tau saja aku sudah sebegininya. 

Mereka sering bertanya apa yang aku rasakan padamu. Aku juga bingung. Aku bilang tak ada rasa, tapi nyatanya berbanding terbalik. Kalau aku bilang memiliki rasa, aku tak yakin. Karena tak ada kerinduan, cemburu, dan keinginan untuk memiliki. Lagi pula, selain fisik, aku masih bertanya-tanya apa yang membuatmu lumayan istimewa. Kau tidak rapi. Jauh malah dari kata rapi. Kau pintar? Secara akademis aku tak tau. Tapi kau manusia pemikir. Lalu apa? Tak ada. Lantas, kenapa tulisan ini sampai bisa ada? Entah.. Oh ya, siapa namamu?
SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar