Jadi, fotografer atau musisi? Dalam hal
apa kau tanyakan itu? Pilih saja lah. Kenapa? Pilihan profesi enggak sesempit
itu kan. Kalau gitu, kita ubah
pertanyaannya. Fotografi atau musik? Aku tak pawai bermusik. Menyanyi, standar
karokean lah. Emang enggak punya darah seni. Fotografi, tampaknya terlalu maskulin
untuk wanita. Jadi? Jadi ya, coba saja semua selagi mampu. Masih banyak yang
mengantri untuk ku jamah. Kalau begitu, artinya tulis menulis sedang kau
‘kencani’? Tidak juga. Tulis menulis luas sekali artinya. Dengan kamera, aku
menuliskan sebuah benda, pemandangan atau apa saja dengan bantuan cahaya.
Melalui musik, aku menuliskan isi hati. Lalu kau ingin yang mana? Ayo lah, kau
ingat usia ku kan? Bukan saatnya aku memilih. Ini saatnya aku mencoba, biar
tahun depan pilihan ku mantap. Lagi pula, kalau aku bisa adil, apa salahanya aku
berpoligami? Manusia tak pernah bisa adil, Adinda. Ya kalau nanti aku tak bisa
adil, aku ceraikan salah satu. Tak bisa seenakmu begitu. Tak akan sesuka hati.
Kalau aku mampu memenuhi syarat untuk berpoligami, aku lakukan, kalau ternyata
tidak, ya sudah, aku setia pada satu profesi saja. Kau ini, suka sekali
mempersulit hal sepele. Terserah kau lah, yang penting konsisten saja pada
ucapanmu. Itu lah yang harus ku selesai terlebih dahulu di tahun ini.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar