Untitled..Complicated.. Mimpi Unik..


Dengan sedikit mencibir, mereka bilang aku pemimpi yang ulung. Aku terlalu percaya diri untuk bermimpi setinggi itu. Tapi menurut ku, mimpi ku masih standar. Selama masih memimpikan yang berwujud, aku rasa biasa saja. Ya, aku suka sekali bermimpi –yang kata mereka muluk-.
          Dua tahun yang lalu aku mulai melukiskan skenario seperti ini di kepala ku. Mimpi sejenis ini bukan pertama kalinya, mungkin kesekian kali namun kedua kali yang benar-benar aku karang apik. Mungkin karena aku konsumen setia benda elektronik bergambar itu, makanya aku bisa membuat cerita sendiri di otak ku.
          Aku bilang, tak ada yang tak mungkin. Mimpi masih gratis ini, kenapa harus segan bermimpi semewah mungkin. Tak akan ada yang memungut bayaran dari mu. Karena alasan ini lah aku berani  bermimpi setinggi mungkin. Aku enggak pernah takut sakit saat terjatuh nanti (seperti banyak orang katakan), karena saat aku mulai bermimpi, aku pun sudah menyiapkan diri kalau-kalau suatu saat terjatuh. Tinggal mempersiapkan diri untuk mimpi selanjutnya.
          Mimpi ku letaknya jauh. Dia berwujud namun terasa sangat maya. Mengeja namanya saja aku tak mahir. Ia berada di atas angin, sementara aku menapak pasti di daratan. Bagaikan langit dan bumi. Dipandang dari idealisme pun, ia tetap saja sangat jauh dari ku. Lalu kenapa aku terus berani bermimpi? Mungkin ia punya ilmu hipnotis atau mungkin keturunan penyihir? Ah, bodoh! Kau terlalu banyak berimajinasi. Aku tetap memimpikannya karena ya tak ada yang tak mungkin.
          Aku memilihnya menjadi pemeran utama dalam mimpi ku karena dia mampu memerankannya dengan baik. Memenuhi kriteria pemeran utama yang aku inginkan. Sebegitu sempurnakah? Tidak, sebelum ia mau menganut idealisme ku.
          Tak muluk seperti yang orang katakan. Aku hanya ingin dekat. Ingin dapat menyentuh wujudnya dan memastikan ia dapat tersentuh. Ingin ia berada di daratan (bumi) bersama ku atau boleh lah sesekali aku ikut dia ke langit –bersama angin-. Tapi yang mutlak di skenario ku, ia harus satu idealisme dengan ku. Kalau ia tak menurut, maka dengan mudah aku cari pemeran pengganti. Membangun mimpi baru yang semoga bisa menjadi nyata.
          Lalu, mimpi ini menggunakan partikel apa atau siapa? Ya, Ia... mimpi....
SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar