Dengan sedikit mencibir, mereka bilang aku pemimpi yang ulung. Aku terlalu
percaya diri untuk bermimpi setinggi itu. Tapi menurut ku, mimpi ku masih
standar. Selama masih memimpikan yang berwujud, aku rasa biasa saja. Ya, aku
suka sekali bermimpi –yang kata mereka muluk-.
Dua tahun yang lalu aku
mulai melukiskan skenario seperti ini di kepala ku. Mimpi sejenis ini bukan
pertama kalinya, mungkin kesekian kali namun kedua kali yang benar-benar aku
karang apik. Mungkin karena aku konsumen setia benda elektronik bergambar itu,
makanya aku bisa membuat cerita sendiri di otak ku.
Aku bilang, tak ada yang tak
mungkin. Mimpi masih gratis ini, kenapa harus segan bermimpi semewah mungkin.
Tak akan ada yang memungut bayaran dari mu. Karena alasan ini lah aku berani bermimpi setinggi mungkin. Aku enggak pernah
takut sakit saat terjatuh nanti (seperti banyak orang katakan), karena saat aku
mulai bermimpi, aku pun sudah menyiapkan diri kalau-kalau suatu saat terjatuh.
Tinggal mempersiapkan diri untuk mimpi selanjutnya.
Mimpi ku letaknya jauh. Dia
berwujud namun terasa sangat maya. Mengeja namanya saja aku tak mahir. Ia
berada di atas angin, sementara aku menapak pasti di daratan. Bagaikan langit
dan bumi. Dipandang dari idealisme pun, ia tetap saja sangat jauh dari ku. Lalu
kenapa aku terus berani bermimpi? Mungkin ia punya ilmu hipnotis atau mungkin
keturunan penyihir? Ah, bodoh! Kau terlalu banyak berimajinasi. Aku tetap
memimpikannya karena ya tak ada yang tak mungkin.
Aku memilihnya menjadi pemeran
utama dalam mimpi ku karena dia mampu memerankannya dengan baik. Memenuhi
kriteria pemeran utama yang aku inginkan. Sebegitu sempurnakah? Tidak, sebelum
ia mau menganut idealisme ku.
Tak muluk seperti yang orang
katakan. Aku hanya ingin dekat. Ingin dapat menyentuh wujudnya dan memastikan
ia dapat tersentuh. Ingin ia berada di daratan (bumi) bersama ku atau boleh lah
sesekali aku ikut dia ke langit –bersama angin-. Tapi yang mutlak di skenario
ku, ia harus satu idealisme dengan ku. Kalau ia tak menurut, maka dengan mudah
aku cari pemeran pengganti. Membangun mimpi baru yang semoga bisa menjadi
nyata.
Lalu, mimpi ini menggunakan
partikel apa atau siapa? Ya, Ia... mimpi....
0 komentar:
Posting Komentar