"Sedang apa?". Sedang tidak ingin memahami dan memaklumi. Memahami tanpa pernah dimengerti rasanya seperti menunggu hujan dimusim kemarau. Sudah kekeringan tapi hujan tak kunjung datang.
***
Aku seperti tengah berjalan di gurun pasir untuk mencari kan mu setetes air. Kau bilang, kaki mu tak lagi mampu menopang tubuh gempalmu. Aku mengerti. Tuhan rupanya memberiku kekuatan lebih setelah berjuta-juta joule energi ku kuras. Dengan langkah tergopoh-gopoh, aku bawakan segenggam air untukmu. Tapi, kau hempas tanganku hingga air yang dengan susah payah ku bawa diserap pasir kuning. Katamu air ini hanya akan membuatmu semakin haus. Ini bukan pertama kalinya. Sudah jadi hal biasa kau menginjak-injak usaha ku.
***
Saat itu, tak sepatah kata pun ku keluarkan. Hatiku sudah puas menghakimimu. Aku tau, kalau aku marah, maka aku akan menangis. Dan aku tak mau itu terjadi. Aku tak mau kau memandangku lemah. Aku tak mau kau menganggapmu begitu peduli padamu. Aku berbalik arah dalam kebisuan. Dalam diam aku bermunajat agar kau baik-baik saja.
***
Kau mengajariku keindahan, pengalaman, cara berpikir dan cinta. Tapi, tak sedetik pun ia memahami ku. Kau tau itu? Bahkan untuk sekedar memaklumi ku. Aku pun manusia, sama sepertinya. Air itu letaknya jauh dan berada di dasar tanah. Belum lagi aku harus menutup erat jari-jari ku agar tak setetes pun jatuh. Aku begitu mengagumi keindahanmu, tapi aku tak sejalan dengan ia yang tak bisa menghargaimu. Aku yakin dia pasti akan menemukan pencari airnya yang baru. Kau jangan cemas. Aku pun tak sehebat seharusnya.
0 komentar:
Posting Komentar