Petang. Aku merindukanmu. Kau sehat? Apa yang sedang kau lakukan?
Bagaimana hari mu?
Aku menatap sendu layar komputer, Tuan Kerispatih. Sama seperti petang
sebelumnya, senyap kamar selalu membuat ku merindukan mu. Kesalahan besar ku
petang ini adalah lagi-lagi memutar lagu-lagu Kerispatih. Aku tak kuat melawan
desakan rindu ini lagi. Ijinkan aku mengganggumu setengah jam saja.
Aku mengambil handphone yang aku campakkan begitu saja di tempat tidur.
Aku tak mau mengulur waktu lagi. Aku harus menyampaikan kegelisahan ku pada mu,
pun lewat lagu cengeng ini. Pertama, aku atur nomor ku menjadi private number agar kau tak tahu bahwa
aku yang sedang menggubris mu.
“Hallo,” katamu dari jauh sana.
Ingin ku sambar dan berkata ‘aku merindukan mu’, tapi aku terlalu
pengecut. Aku diam untuk beberapa detik mendengar suara mu yang mulai kesal.
Aku putar lagu ‘Tak Lekang Oleh Waktu’, mengencangkan volumenya dan mendekatkan
handphone ke loudspeaker. Semoga
telingamu tak tuli karena ini. Sayup-sayup aku dengar kau berulang kali berkata
‘halo’, sesekali kau diam. Maaf mengganggu mu, Tuan. Maafkan kebodohan ku yang
mengusik mu. Mungkin kalau aku tak menelpon, kau sedang mengobrol mesra dengan
pacar tercinta mu. Aku hanya minta setengah jam saja dan dengarkan lagu ini.
Itu saja. Setelah lagu usai, aku tak lagi mendengar suara mu. Mungkin kau muak.
Tapi tak apa. Aku sudah cukup puas. Aku putus teleponnya.
Petang ini, jarak dan waktu semakin menyiksa ku. Sudah berjauhan,
menyimpan rasa pula. Menumpuk sudah rindu ini, Tuan. Selamat petang, Jakarta.
Selamat petang, Tuan. Selamat petang, rindu.
musik memang pengikat kenangan yang kuat, kata romi rafael. :D
BalasHapussemoga si Tuan tahu, ada yg lebih kangen dia dari pada pacarnya sendiri. hehe
Semoga! Mungkin kalau kangen ini terbalaskan, semua kenangan enggak seindah skrg ini *labil*
BalasHapus