Aku dan Suara USU
Hampir setahun sudah Andika Bakti,19
tahun menjalani rutinitasnya sebagai fotografer di Pers Mahasiswa Suara USU.Pilihannya
menjadi fotografer didasari hobinya memotret sejak SMA walau hanya bermodal
kamera pinjaman.Ia pun mengaku bahwa kakaknya lah yang menjadi inspirasi
buatnya.”Lihat dari kakak yang bisa ambil foto yang unik-unik”,kata anak ketiga
dari empat bersaudara ini.Walaupun tak mendapat dukungan menjadi seorang
jurnalis oleh orangtuanya,namun itu tak menghentikan langkahnya untuk terus
belajar dan membukitkan bahwa ia mampu berprestasi.”Ingin belajar.Aku yakin
Suara USU mencari orang yang mau belajar,bukan orang yang pintar”,jelasnya
tentang alasannya memilih Suara USU sebagai tempat berorganisasi.”Suara USU
mampu mengubah dari hal-hal yang tidak aku ketahui menjadi tahu”,sambungnya.Sedari
dulu,Andika sangat ingin menjadi seseorang yang percaya diri,dan Suara USU
mampu memenuhi keinginannya tersebut. Banyak momen yang telah dilaluinya selama
menjadi fotografer,baik suka maupun duka.” Sukanya,punya banyak pengalaman,bisa
pergi kebanyak tempat,serta adanya kepuasan tersendiri kalau hasil foto aku
bisa dimuat dan dilihat semua orang.Kalau dukanya,sulit jadi fotografer tapi
gak punya kamera sendiri,gak bebas pake kamera karna takut rusak”,cerita pria
yang mengidolakan Mario Teguh ini.Lalu,bagaimana sebenarnya foto yang baik itu?
”Foto yang baik adalah foto yang memiliki nilai berita.Foto tersebut harus
punya cerita.”,jawabnya.
Cita-cita masa kecil
dan perjalananku menuju USU
Pria kelahiran Takengon,28 Mei 1991
ini lahir dari keluarga yang sederhana. Masa kecilnya dihabiskan selayaknya
anak kecil pada umumnya.Di sebuah rumah yang terletak di dataran tinggi dengan
kondisi jalan yang masih tanah,Andika kecil menikmati masa kecilnya.Tidak
seperti anak-anak zaman sekarang yang serba modern,sewaktu kecil ia tak pernah
mengenal playstation,internet,game online,dll.Namun kesederhanaan itu tak
menghalanginya untuk bermimpi.Cita-citanya adalah menjadi seorang pilot.”Pengen bisa terbang kemana aja,dan lihat apa aja”,tuturnya.
Memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP),cita-citanya
berubah ingin menjadi seorang pembalap.Untuk memuaskan hasratnya menjadi
seorang pembalap,ia pun bergabung dengan sebuah kelompok sepeda motor.Disini
pula ia menyalurkan hobinya memodifikasi motor. Hobinya it uterus berlanjut.Menginjak
bangku SMA,semakin banyak pengalaman hidup yang didapatkannya.Sewaktu kelas 2
SMA,ia pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang pada
kakinya.”Seandainya waktu bisa diulang,aku pasti dengar kata orangtua untuk gak
pergi waktu itu”,sesalnya.Hobinya balapan yang terbilang liar dan dipandang negatif
tak membuat prestasinya jelek.Ia dipilih oleh pihak sekolah untuk mengikuti
Penelusuran Minat Prestasi (PMP) dari dua universitas negeri yakni UNAND dan
USU.
Pria yang akrab disapa Dika ini mengaku tak memiliki niat untuk masuk USU
ataupun UNAND.”Niat aku kuliah di Aceh.Gak pengen di USU”,gumam pria yang hobi
mendengarkan musik sebelum tidur ini.Hal ini senada dengan kedua orangtuanya
yang tak merestuinya untuk melanjutkan pendidikan di UNAND ataupun USU.Namun,ia
terasadar bahwa tak semua orang memiliki kesempatan sepertinya.”Orang-orang
pada kesusahan untuk masuk ke USU atau UNAND,aku diberi kemudahan dan rejeki
dari Tuhan kok menolak”,kata
Dika.Akhirnya ia pun berusaha keras meyakinkan kedua orangtuanya untuk
mengizinkannya kuliah di USU.Dengan usaha kerasnya,ia pun mengantongi izin
tersebut.
Perjuangannya masuk USU tidaklah mudah.Tiga hari sebelum pemeriksaan
kesehatan,ia kembali mengalami kecelakan dan merusak sepeda motor
temannya.Andika tak mau merepotkan kedua orangtuanya dengan masalah yang tengah
dihadapinya pda saat itu. Ia berusaha sendiri untuk memperbaiki sepeda motor yang rusak tersebut.Syukurnya ia memiliki
tujuh sahabat yang mau membantunya.Andika mampu mengumpulkan pundit-pundi uang
dari lomba karya tulis yang diikutinya dan uang Rp 400.000,00 mampu diperolehnya
dari membantu mengerjakan tugas teman-temannya,sisanya diperoleh melalui
bantuan dari orang yang menabraknya dan dari teman yang saat kecelakaan ada
bersamanya.Akibat kerja kerasnya,ia pun mampu memperbaiki sepeda motor tersebut
dengan uang sendiri tanpa campur tangan orangtuanya.Kejadian yang tak akan
pernah dilupakannya sampai kapanpun.
Prinsip dan target hidupku
Semenjak kelas 1 SMA,Andika mengaku sudah jarang meminta uang dari
orangtuanya.Prinsipnya,kalau ia diberi uang jajan akan ia terima namun jika
tidak maka ia tak akan meminta.Untuk memenuhi kebutuhannya,ia mendapatkan uang
dengan membantu sang nenek yang memiliki usaha membuat kopi.Uang sebesar Rp
5-10ribu dapat diperolehnya dari membantu mengangkat kopi.”Jangan sampai nyusahin orangtua,berusaha mandiri dan gak mau
korbankan harta orangtua.”,tambah pria yang mengaku tidak suka membaca ini.Walaupun
tidak suka membaca,namun kemauan belajarnya sangat kuat.Satu hal yang selalu
ditanamkannya “Aku bodoh dan aku harus terus belajar”.Hal tersebutlah yang
membuatnya tak pernah berani untuk menyombongkan diri.Apa yang diinginkan harus
didapat,itulah Andika.Untuk memenuhi segala yang ia inginkan,Andika tak ragu
untuk menjadi seorang penjual pulsa bahkan sampai menjual sepeda motor dan
handphonenya agar tetap tidak merepotkan dan membebani kedua orangtuanya.”Dari
SMA aku udah beli baju dengan uang senidiri”,kenangnya.Andika tidak mau banyak
mengeluh dengan kehidupannya yang dijalaninya.Ia selalu yakin bahwa takdir atau
segala yang diberikan Tuhan YME adalah yang terbaik buatnya.”Allah SWT MahaTahu
apa yang terbaik buat umatNya”,ujar Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU 2009
dengan yakin.Dalam hidupnya,Andika tak memiliki target yang muluk-muluk,ia
hanya ingin membahagiakan orangtuanya.Bahagia orangtua adalah kebahagiaan
terbesar dalam hidupnya.”Suatu hari kelak,aku ingin memberangkatkan haji kedua
orangtuaku dengan hasil keringatku dan jerih payahku sendiri”,tutupnya. (Sofiari
Ananda)
0 komentar:
Posting Komentar