Hari itu, 30 Januari 2012, rumah Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia (Walhi) terlihat sibuk. Padahal jam sudah menunjukkan sekitar pukul 22.00 WIB. Diisi dengan berbagai kegiatan para peserta
workshop jurnalisme sastrawi dan new media Lancang Kuning Berlayar Narasi.
Beberapa memilih mengerjakan tugas wawancara, bertukar cerita, bernyanyi dan
ada yang memilih untuk istirahat.
Saya sendiri memilih mulai menulis untuk mengisi rubrik
opini di portal berita online SUARA USU. Diskusi singkat saya dengan Mas Nugi
tentang infotainment yang bukan bagian dari jurnalisme, mencerahkan pikiran
saya. Bergelut dengan kumpulan materi
yang bisa memperkuat opini saya, sampai seorang peserta menghentak.
Menggunakan kaos berwarna biru dengan garis-garis putih dan
hitam. Pria ini berkulit sawo matang, rambut ikal, dengan tinggi badan sekitar
168 cm. Namanya Afriadi, biasa disapa Afri atau Adi. Saya lebih suka
memanggilnya Adi. Lebih mudah. Ia
menghampiri dan meminta ijin untuk mewawancarai saya. Saya mengiyakan dan
berbalik minta ijin untuk juga mewawancarainya. Ia pun terlebih dahulu
mewawancarai saya. Ia tanyakan tentang saya dan SUARA USU. Setelah ia merasa
cukup info, saya balik mewawancarainya. Tentang ia dan Gagasan.
***
Adi berusia 19 tahun. Tepat 21 April nanti ia genap
berkepala dua, usia 20 tahun. Sedari tahun 2011, Adi terdaftar sebagai
mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN SUSKA Riau. Selayaknya mahasiswa baru, ia dan
teman-teman lainnya mengikuti penanaman nilai dasar kepemimpinan. Melalui
kegiatan tersebut, diperkenalkan organisasi-organisasi yang ada di universitas.
Dari beberapa organisasi, hanya satu yang menarik perhatiannya, LPM Gagasan.
Tapi sayang, niatnya untuk mendaftar urung diaplikasikan.
Karenanya syarat berupa membuat tulisan dan surat lamaran membuatnya merasa
takut. Sebagai mahasiswa semester satu, Adi merasa tidak punya kebisaan membuat
surat lamaran ditambah ketidaksukaannnya pada menulis. Katanya, ia takut salah.
Semester satu telah dilalui dengan minat untuk masuk Gagasan
yang masih menggantung. Beruntung, ia bertemu dengan seorang teman yang telah
bergabung di LPM Bahana. Melalui si teman, Adi termotivasi kembali bergabung
dengan LPM. Dengan iming-iming kesesuaian dengan jurusan dan menciptakan sosok
yang kritis, keputusan Adi bulat untuk mendaftar di Gagasan. Baginya, menunggu
selama satu semester sudah cukup.
Saat mendaftar ada rasa takut dan tidak percaya diri dalam
diri Adi. Tapi, ia enggan terhanyut. Ia coba melawan. Ia yakin semua masalah
jika dihadapi akan selesai.
“Enggak bakal tahu
kalau enggak dicoba, walau takut,” katanya dengan mimik serius.
Kini, delapan bulan sudah Adi menjadi kru magang Gagasan.
Dinamika menjadi seorang pers mahasiswa mulai ia rasakan. Banyak perubahan
positif tapi tentu ada sedikit bumbu negatif. Adi yang sekarang tahu banyak
tentang masalah kampus, tidak apatis seperti dulu. Secara akademis, ia kini
menjadi mahasiswa yang speak-up yang
turut mempengaruhi peningkatan nilainya.
Namun, ketidaksukaan dan rasa malas yang kerap muncul untuk
menulis membuat keberadaannya di Gagasan terasa berat. Ia mengisahkan, rasa
malas menulisnya membuat data yang sudah lengkap ia peroleh menjadi sia-sia.
Menjadi salah satu kru LPM membuat Adi pelan-pelan ‘asing’
dengan teman kuliahnya.
“Eh ada anak Gagasan,” sapaan yang telah akrab di telinga
Adi.
Sebenarnya, ia tak suka disapa seperti itu. Baginya ia belum
layak membanggakan diri sebagai anggota LPM jika belum menghasilkan tulisan
yang baik.
Soal tulisan yang baik, subjektifitas Adi bilang, tulisan yang baik adalah tulisan
yang enak dibaca, mengalir sehingga membuat pembaca terbawa dalam tulisan serta
sesuai dengan aturan seperti EYD. Ia menargetkan, sebelum semester lima ia
harus sudah mampu menghasilkan tulisan yang baik, pun menurutnya.
***
Keaktifan Adi di Gagasan tengah dihadapkan pada suatu
kedilemaan. Ia diharuskan memilih antara Gagasan dan kegiatannya membantu
orangtua.
Jadwal rapat Gagasan yakni hari Jumat, Sabtu, dan Minggu
berbenturan dengan jadwal pulang kampungnya untuk membantu orangtua.
Biasanya, setiap hari Jumat Adi diharuskan pulang kampung
oleh orangtua nya. Selama di kampung halaman, Adi membantu ayahnya memanen
sawit. Walau telah dibantu oleh abang tertuanya dan seorang karyawan, namun
usia senja sang ayah membuat Adi terpanggil untuk membantu.
“Ayah udah 54 tahun. Enggak tega lihat Ayah kerja berat,”
jawabnya sendu.
Menggunakan dodos, alat memetik buah sawit dari pohon
setinggi kurang lebih 2,5 m, Adi berusaha meringankan kerja sang ayah tiap
Jumat dan Sabtu.
Ini lah yang membuat Adi jarang berkumpul dan mengikuti
rapat Gagasan. Bagi Adi, dua hal ini adalah hal yang penting. Sulit baginya
untuk memilih Gagasan atau usaha mengabdi pada orangtua. Sampai saat ini, ia
belum menemukan jalan keluar. Hanya sedang mencoba memberi penjelasan pada
Gagasan dan orangtua. Rencana ke depan, ia ingin mencari kerja sampingan untuk
mengirit biaya kebutuhan pribadi.
Anak ketiga dari delapan bersaudara ini bercita-cita menjadi
reporter televisi, khususnya bidang kuliner. Sebab, orangtua nya suka menonton
liputan-liputan kuliner. Ia pun ingin dikenal orang banyak.
“Ingin liatin ke
orangtua kalau saya bisa jadi seperti orang-orang yang biasa mereka tonton,”
katanya tersipu malu.
Nb : Tulisan ini dibuat untuk tugas deskripsi pada Workshop Jurnalisme Sastrawi dan New Media Lancang Kuning Berlayar Narasi. Pekanbaru, 30 Januari-2 Februari 2012. Rumah Walhi, jalan Katio, Riau.
0 komentar:
Posting Komentar