Ragam Pendapat Soal PKL , Taman Kota Memanas


Peraturan Daerah tentang larangan berjualan di trotoar jalan membuka wacana penertiban pedagang kaki lima di taman kota. Benarkah keberadaan mereka hanya membawa dampak negatif?

Pemadaman lampu jalan yang disengaja dan ratusan batu yang bertebaran di badan jalan membuat suasana Taman Kota jalan Cut Nyak Dien, 30 Januari lalu menjadi pemandangan yang tak lazim. Ditambah banyaknya polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketika itu, sekitar hampir pukul setengah delapan malam, Rudiansyah tiba di sana. Ia tak tahu jelas apa yang telah terjadi di tempat ia biasa menjajakan es tebu dagangannya.

Sudah tiga tahun bapak berusia 32 tahun ini berjualan di sana. Sehari-harinya ia dagang di Pasar Kodim jalan Ahmad Yani pada pagi sampai sore hari. Di malam hari baru lah ia berjualan di taman kota. Menurutnya, selama ia berdagang tak pernah ada masalah tentang pedagang kaki lima (PKL) di jalan Cut Nyak Dien.

Tapi setahun terakhir keadaan berubah. Di pertengahan tahun 2012, pemerintah kota Pekanbaru mengeluarkan wacana berupa larangan berjualan di jalan tersebut. Namun, Rudi tidak ingat kapan itu terjadi.
“Kami (para PKL) langsung kalang kabut saat itu,” ungkapnya.

Menanggapi masalah itu, para PKL segera melakukan pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Pekanbaru. Beberapa perwakilan PKL pun disambut dan berhasil duduk bersama untuk mediasi dengan anggota DPRD. Hasilnya, PKL diberi waktu dua minggu untuk berjualan selagi DPRD mencari solusi bersama Walikota Pekanbaru Firdaus.

Sayangnya, keputusan itu diingkari, kata Rudi. Secara tiba-tiba Satuan Polisi Pamong Peraja (Satpol PP) kembali ‘beraksi’ menertibkan PKL. Hal ini membuat para PKL yang tergabung dalam Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) melakukan demo. Namun hasilnya nihil. Mereka tak berhasil bertemu walikota.

Keadaan mulai panas. Pertanggal 28 Januari surat edaran (SE) berisi larangan berjalan di taman kota diterima ketua SRMI Riau Agun Zulfaira. Adanya SE tak menghentikan kegiatan berjualan PKL. Mereka bertahan, Satpol PP pun tak bosan berusaha menertibkan.
***
Seminggu terakhir hubungan PKL dan Satpol PP makin memanas. Puncaknya, Rabu  malam lalu (30/1) terjadi bentrok antara kedua belah pihak. Bermula dari seorang pedagang sate yang nekat berjualan walau sudah dilarang. Hal ini membuat Satpol PP merusak gerobak sate tersebut dan memancing emosi PKL.
“Pedagang juga enggak mau kalah,” kenang Rudi berdasarkan cerita temannya yang saat itu ada di lokasi kejadian.

Hasilnya terjadi aksi saling lempar batu antar Satpol PP dan PKL. Ingatan Rudi bilang kejadian tersebut berlangsung kurang lebih setengah jam. Bentrok berakhir dengan dua korban luka yakni satu dari PKL dan satu dari aparat Satpol PP.

Malam tadi (1/2) tepatnya pukul 20.00 WIB belum ada penerangan dari lampu jalan di taman kota tersebut. Cahaya didapat dari beberapa mobil dan sepeda motor yang lalu lalang. Di pertengahan jalan, puluhan pedagang berkumpul. Di antaranya ada yang masih berjualan selebihnya hanya sekedar duduk-duduk. Berjalan ke ujung jalan, berjaga sekitar dua ratus aparat Satpol PP dengan peralatan lengkap. Pemandangan ini menarik perhatian warga yang lewat, sehingga sengaja berhenti di seberang jalan Cut Nyak Dien.

Saat ditemui, Rudi tengah berdiri di atas trotoar melihat sekeliling jalan. Ia bercerita kronologis penertiban tersebut. Belum klimaks yang ia sampaikan, Satpol PP mulai ‘menggertak’ PKL untuk angkat kaki. Dengan terburu-buru Rudi dan PKL lain menyalakan kendaraan mereka dan pergi ke luar jalan Cut Nyak Dien.

Ketika keadaan mulai mereda, Rudi bersedia di wawancara kembali. Ia meminta bertemu di sisi kanan jalan Cut Nyak Dien. Alasannya para PKL tak diperbolehkan bicara pada wartawan. Dengan cepat Rudi membuka helmnya. Dia mengatakan alasan walikota melakukan penertiban ini karena taman kota bukanlah tempat berjualan. Melainkan taman berfungsi untuk menciptakan keindahan kota. Sebelum kepemimpinan dipegang Firdaus, pemerintah khususnya walikota tidak pernah melarang PKL di taman ini.
“Tapi namanya pemerintah ya susah dilawan,” katanya tertawa kecil.

Sementara menurut Rudi dan PKL lain sangat bagus jika ada hiburan di taman kota. Ia memisalkan  daerah Malioboro di kota Jogja yang menjadi tempat berjualan, tapi justru didukung pemerintah.
“Dimana lagi orang Pekanbaru bisa dapat hiburan?,” tanyanya balik.

Tujuh puluh personil Organisasi Masyarakat (ormas) Pemuda Pancasila (PP) berkumpul di seberang aparat Satpol PP untuk memantau keadaan. Personil yang turun ke lapangan berasal dari Pimpinan Anak Cabang Pemuda Pancasila( PAC PP) kota, Tenayanraya dan Marpayon Damai.

Ketua PAC PP Novendri Cahyadi mengatakan pihak PP terpanggil untuk memantau lokasi berkaca dari bentrok yang terjadi Rabu malam kemarin. PP ingin menjaga keseimbangan untuk kasus ini. Pihak Novendri berusaha mencari solusi untuk PKL, namun PKL juga harus mematuhi peraturan pemerintah.
“Adanya PKL membuat jalanan jadi macet. Tidak teratur dan mengganggu,” pungkas Novendri.

Beda pendapat datang dari seorang warga. Bersama sang suami, seorang ibu melihat kondisi jalan Cut Nyak Dien. Saat ditanyakan, ia beberapa kali memalingkan wajah dan berjalan menjauh. Ia sempat mengaku kehadiran PKL di taman kota sama sekali tidak menganggu bahkan menghibur.
“Banyak mainan anak-anak, jadi sering bawa anak ke sini,” ungkapnya cepat sambil naik ke sepeda motor dan pergi berlalu. 

NB : Tulisan ini dibuat untuk tugas menulis feature pada Workshop Jurnalisme Sastrawi dan New Media Lancang Kuning Berlayar Narasi di Pekanbaru, Sabtu (2/2).
SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar