Tentang Workshop – Pekanbaru


Ini adalah tentang Workshop Jurnalisme Sastrawi dan New Media Lancang Kuning Berlayar Narasi yang kurang lebih dua minggu lalu dilaksanakan. Workshop atau aku biasa menyebutnya  pelatihan ini merupakan yang pertama kali bagi ku. Ya, hampir tiga tahun berkecimpung di pers mahasiswa, akhirnya kesempatan ku untuk mengemban pelatihan datang.

Awalnya, menurut detail foto di ponselku, aku menerima info pelatihan ini pada tanggal 13 Januari lalu. Melalui Whatsapp, seorang teman dari salah satu pers mahasiswa Pekanbaru mengirimkan flyernya pada ku. Pertama melihat saja, rasanya girang bukan kepalang. Alasannya jelas. Pelatihan ini diadakan di Pekanbaru. Kota ini tak asing bagiku. Ada tiga keluarga ku di sana, ditambah letaknya yang menurut ku tak terlalu jauh. Alasan selanjutnya, waktu diadakannya tepat dengan waktu libur kuliah ku. Selama ini, alasan kenapa aku tak pernah diperbolehkan mengikuti pelatihan ya karena waktunya yang berbenturan dengan kuliah. Lainnya, biaya kontribusinya yang relatif murah untuk sebuah pelatihan. Pikir ku, saat dikabarkan lulus nanti, aku masih punya waktu sekitar seminggu untuk ajukan proposal sana sini. Biaya aman lah, enteng ku. Tapi alasan paling kuat, aku tak mau menjadi alumni pers mahasiswa tanpa pernah merasakan pelatihan. Aku ingin dapat ilmu tentang jurnalisme sastrawi yang bagi ku belum pernah benar-benar aku dapat. Sekarang, aku angkatan tertua di SUARA USU. Aku yang seharusnya mengajari adik-adik di bawah ku, bukan waktunya lagi untuk belajar. Aku harus ikut. Tekad ku bulat!

Langkah awal pasti lah merebut ijin orang tua. Aku dekati mama yang lebih mudah dirayu. Ia mengijinkan dengan syarat aku pergi atas ijin papa juga. Baik, setidaknya sepihak ijin telah aku kantongi. Kedua, mencari teman yang mau ikut. Percuma kalau tak ada teman, mutlak tak ada ijin. Aku coba tanya pada teman-teman seangkatan ku. Empat anggota SUARA USU berminat.  Kami pun mulai sering saling tanya ‘udah kirim tulisan belum?’. Aku sendiri selalu menjawab dengan ‘belum, ntar aja tanggal 20’. The power of deadline selalu menggoda. Ditengah menunggu tanggal 20, mama membawa kabar yang luar biasa mengejutkan. Katanya, papa memberi ijin. Waw, ini hal langka. Aku tau, papa selalu suka jika itu dalam hal kompetisi. Menurutnya terpilih menjadi peserta melalui tulisan termasuk sebuah kompetisi. Aku melompat-lompat dengan sedikit berteriak mengabarkan ini pada anggota SUARA USU yang lain. Akhirnyaaaaaaaa, kata ku dan mungkin mereka dalam hati.

20 Januari, sekitar pukul setengah satu siang, aku mengirimkan naskah dan biodata diri ke email Narasi Sumatera. Tulisan yang aku ‘kompetisikan’ adalah tentang sejarah USU yang aku tulis untuk rubrik Pojok Medan di tabloid SUARA USU. Dua hari setelah pengiriman, aku, Debo dan Izzah mulai riweh menunggu pengumuman. Kami menunggu pengumuman via sms, email atau blog Narasi Sumatera. Sekali Debo menelpon, meminta ku untuk mengecek blog mereka, tau-tau ada pengumuman. Tapi nihil, tak ada pengumuman sama sekali. Hari itu, belum ada kepastian yang kami dapat. Keesokan harinya, aku tak ingat dapat info dari siapa. Katanya hanya Debo yang lulus seleksi. Kecewa? Pasti. Ijin yang sulit ku dapat terbuang sia-sia. Dukungan via twitter pun mulai berdatangan. Mereka bilang ‘Tak apa. Pasti ada pelatihan yang lain buat Sofi’. Ya, mungkin akan ada pelatihan lain. Tapi apa akan ada ijin lagi? Entahlah. Mungkin sudah takdirku tak mengecap pelatihan sampai jadi alumni nanti.

Minggu, 27 Januari pagi, tiga pesan singkat aku terima. Isinya sama, tentang seleksi tahap kedua. Mereka bilang aku masih punya kesempatan kalau memang mau ikut. Dengan deadline sampai Senin besok jam 12 siang. Aku bimbang. Sudah terlanjur malas dan bilang ke orangtua kalau aku tak jadi berangkat. Ditambah stok tulisan ku tak ada. Aku coba tanya anggota lain yang pernah berniat ikut, apa mereka mau kirim tulisan lagu atau tidak. Dan tak ada satupun dari mereka yang mau. Besok sajalah aku putuskan, kata ku dalam hati. Aku coba membuka blog. Melihat-lihat tulisan mana yang kira-kira cocok aku kirimkan. Sekitar tiga tulisan aku anggap layak. Tinggal menyortir dan sedikit editan mungkin bisa. Tapi, besok sajalah. Pikirkan lagi.

Keesokan harinya, 28 Januari, pukul sepuluh pagi aku putuskan mengirimkan tulisan lagi. Keinginan ku untuk ikut pelatihan ternyata masih sangat kuat. Aku kirimkan tulisan di blog tentang pengangkatan ku sebagai redaktur foto SUARA USU pada RUA Desember lalu. Aku sempat pesimis, apa curhatan seperti ini bisa lulus? Tapi sudahlah. What God says saja, kata ku pada semua yang bertanya. Katanya, kelulusan akan diumumkan hari ini. Aku coba menunggu sms, email atau bentuk apapun pengumumannya nanti. Pukul dua siang, pengumuman tak kunjung ada. Sudah lah, pasti enggak lulus. Aku menyerah. Matikan komputer, singkirkan ponsel dan memilih tidur siang. Penyakit bulanan wanita yang tengah menyerang membuatku enggan menunggu lagi. Lebih baik tidur biar sakit ini tak terasa.

Satu jam tertidur, aku terbangun oleh dering ponsel mama. Adikku mengangkat. 

“Oh, kak Sofi,” katanya sambil menjauh kan ponsel dan berbisik pada ku.

Aku langsung melek tapi tak mau bangkit. “Bilang aja lagi tidur,” kata ku pelan. Rasa sakit dan baru bangun tidur membuat ku lemas dan malas bicara banyak.

“Dari Debo, kak. Penting katanya,” ulang adikku.

Aku langsung teringat tentang workshop. Apa aku lulus? Bagaimana kalau aku lulus? Langsung berangkat besok? Aku tak ada persiapan. Tak ada uang sama sekali. Kalau ditolak, bodoh sekali. Untuk apa kirim tulisan lagi kalau ujung-ujungnya tak berangkat.

Aku ambil ponsel, pun masih malas duduk.

“Iya, nang,” sambar ku singkat. Debo ini biasa aku panggil inang. Karena ia bersuku Batak serta gaya dan karakternya yang seperti seorang ibu. Inang sendiri adalah bahasa batak yang artinya ibu.

“Sofi, selamat ya lulus workshop,” katanya lembut

“Oh iya? Kok Sofi enggak ada di sms?” jawab ku datar.

Ia pun menjelaskan. Aku diam. Otak ku terus berpikir. Aku berangkat atau tidak. Benar-benar mendadak. Tak ada persiapan, uang, dan harus menjelaskan pada orangtua ku lagi. Tapi aku tetap mulai mengurusi tiket berangkat. Titip tiket pada Debo dan Kak Ridha yang hari itu akan membeli. Syukurlah, mama mengijinkan walau sedikit kaget karena harus langsung berangkat besok. Dengan segera mama menelpon papa yang saat itu sedang dinas keluar kota. Ini salah satu alasan lain yang membeuatku berat berangkat. Papa sedang tak di rumah. Aku tak bisa ijin langsung dan rumah pasti bertambah sepi. Aku mulai melankolis. Naik bus kurang lebih 16 jam, berada diluar kota hampir seminggu tanpa orangtua. Ini pertama kalinya. Aku yang dari lahir sampai sekarang terus di Medan bersama orangtua dan tak pernah bepergian sendiri keluar kota tanpa keluarga, membuatku kian cengeng membayangkan seminggu kedepan. Tapi, aku sudah dewasa. Harus belajar mandiri dan mencari pengalaman diluar kota. Aku buang semua pikiran-pikiran drama itu dan membayangkan ilmu dan pengalaman baru yang akan aku dapat.

Malam harinya, papa menelpon menanyakan dana yang aku perlukan. Awalnya, ia sempat kecewa. Aku menjanjikan tak akan meminta dana dari orangtua karena ada proposal sana-sini. Tapi pengumuman yang mendadak membuatku tak punya waktu. Papa sempat mengungkapkan kekecewaannya. Aku bilang, kalau memang tak diijinkan, aku bisa batalkan. Aku mengalah. Memang seharusnya orangtua tak dibebankan biaya dalam pelatihan seperti ini. Tapi lagi-lagi kata ‘mendadak’ yang membuatnya tak tentu. Papa berbesar hati membiayai seluruh dana yang aku butuhkan. Terima kasih, papa. Maaf menyusahkan mu. Hati ku menangis harus membuatnya repot saat sedang bekerja diluar kota. Aku fix berangkat besok. Packing? Ah, besok saja. Pagi-pagi. Aku tak suka packing. Besok, pindahkan saja seluruh isi lemari ke dalam tas.
SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

2 komentar:

  1. besar perjuangan sodara ku :*
    hehehehe
    maaf baru baca :D

    BalasHapus
  2. Aaaa, Ringgaaaa.
    Kok bisa baca postingan ini? Padahal blum Nanda share loh :')
    Begitu lah perjuangan ke kota klen tu.
    Kok maaf? Baru Nda tulis kok ini.
    Trima kasih sudah baca. Tunggu cerita selanjutnya yaa :*

    BalasHapus