Ribuan kilometer jejak langkah yang wajib. Miliaran detik detak waktu rutin. Sendi pinggangku terasa nyeri. Ia butuh diluruskan. Menapak loyo di pemberhetian yang menakutkan. Menunggu kedatangan orang asing. Syukur tak dibiarkan menanti telalu lama. Seorang ternyata tak terlalu asing, tapi seorang lagi sebaliknya. Jabat tangan membuat keasingan memudar. Dan ratusan kilometer kembali harus dilangkahi. Tapak tilas ini pertanda sejarah hidupku berubah.
Berhari-hari selanjutnya dilewati dengan kumpulan orang asing. Tapi kau –yang
tlah tak begitu asing- jarang sekali terlihat. Mungkin terlalu sibuk
mengenalkan orang-orang asing, satu sama lain. Memfasilitasi kami. Usaha
menyesuaikan diri membuatku rentan melupakanmu. Kau, orang asing yang pertama
merebut sadarku. Pelan-pelan aku lupa pernah ditarik olehmu.
Sampai pada hari kedua terakhir, kau kembali menyadarkanku. Kita, lupa
pernah menjadi asing. Saat itu, kita mulai saling berpagut rayu. Tak ingat
keasingan kita dan memamerkan pada semua orang bahwa kita lengket. Aku yang
sudah hapal dengan karakter seperti mu, tak lagi gugup. Aku melawan mu. Di hari
terakhir, kita semakin ‘mesra’. Aku lupa jejak langkah dan waktu akan kembali.
Aku nyaman. Menghabiskan seperempat hari denganmu cukup istimewa.
Setelah semua ini usai, aku berjanji pada hati untuk tetap menyimpanmu. Kau
berjanji akan melalui waktu dan jalan yang sama untuk menemuiku. Hati ku nyaman
sekali dengan janji itu. Dipisah jalan dan waktu, aku menyerah. Sekali, kau
membuka pembicaraan. Mendurhakakan jarak dan waktu, kita ‘bercumbu’ pesan. Aku tersenyum menang atasnya. Tapi,
pembicaraan kita selanjutnya mengecutkan senyumku. Kau, benar-benar hanya berguyon
dengan perkataanmu. Aku jelas kecewa. Seketika kau kembali asing bagiku. Aku
ternyata belum benar-benar mengenalmu. Dan sekarang aku tak lagi berusaha akan
itu. Aku hanya ingin membuatmu asing
(kembali) dan membenahi pikiran.
0 komentar:
Posting Komentar