Aku Bukan Pendosa!


 http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/gay-ilustrasi-_130206193844-256.jpg

Enam tahun yang lalu, ketika duduk di kelas 3 Sekolah Menegah Pertama (SMP), aku, Edison Franky Suwardika Butar-butar sadar bahwa aku tengah memasuki masa remaja (pubertas). Aku mulai merasakan keinginan dekat dengan seseorang, sama seperti remaja lainnya. Namun bedanya, aku ingin dekat dengan seorang laki-laki, bukan wanita. Aku bingung namun di usiaku yang masih ‘mengkal’, aku tak paham apa yang sebenarnya terjadi. Memasuki masa SMA, perbedaan yang aku miliki semakin terasa. Bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) jurusan Farmasi dengan hanya 6 siswa lelaki dari 50 siswa yang ada, membuat kami berenam sangat akrab. Sejak kelas 1 SMA, Dika –begitu aku biasa disapa- diam-diam menaruh ketertarikan pada seorang teman lelakiku. Lagi-lagi, aku belum mengerti mengapa. Ketika duduk di kelas 2 SMA, rasa bingungku semakin tinggi. “Kok aku suka sama cowok?,” aku membatin. Ketidakpahaman dan kebingungan serta desakan dari teman-temanku untuk punya pacar membuat aku memutuskan menjalin hubungan dengan adik kelasku bernama Lusi. Sayang, hubungan kami hanya berjalan 1 bulan. Aku tak merasakan ketertarikan dan kenyamanan sama sekali. Berpegangan tangan saja terasa aneh. Hambar. Sejak saat itulah aku mulai mendekatkan diri pada lelaki. 

***

Jumat lalu (22/3), mengenakan kemeja merah muda terang, skinny jeans biru, kacamata berbingkai hitam dengan min 2,5, menggunakan sepatu kets serta sebotol minuman digenggaman, Dika berjalan cepat di koridor gedung D Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menghampiri saya. Sedikit berbasa-basi, Dika kemudian membuka obrolan dengan sejarah keluarganya. Ia adalah anak keempat dari 5 bersaudara. Dikeluarganya, hanya ia anak laki-laki. Sepeninggalan sang ayah pada usia 2 tahun, Dika dan ke empat kakaknya diasuh oleh sang mama. Dika kecil mendapat perlakuan eksklusif. Ia tak boleh menyapu dan mencuci. Kegiatan sehari-harinya hanya sekolah, main sepak bola dan main bola voli. ‘Bau’ tangan wanita disekelilingnya menurut Dika bukanlah alasan utama kenapa ia menyukai lelaki. “Suatu kebetulan aja,” singkatnya. Teman-temannya sering bilang, mungkin ia haus kasih sayang laki-laki. Ya benar ia ingin disayang oleh laki-laki. Kalau ditarik ke arah itu, ia merasa 50:50. “Yang punya ayah juga ada yang kayak gitu,” kata Dika.

Sewaktu SMA, Dika tak punya keberanian untuk berkonsultasi tentang perbedaannya ini. Ia takut, sebab tak ada teman yang sepertinya. Ia pun menumpahkan segala rasanya melalui status di Friendster (FS) dan bertemu orang yang sama dengannya. Tanggapannya biasa saja. Si teman FS bilang kalau sudah begitu, terima saja.

“Kenapa Tuhan ciptakan aku kayak gini? Kalau bisa milih, aku enggak mau diciptakan kayak gini. Kenapa saat bayi aku tidak bisa memilih untuk lahir seperti yang lain,” tanyanya pada Sang Pencipta. Kala itu, kelas 3 SMA, berbagai masalah ia topang. Putus dengan pacar lelaki pertamanya, akan menghadapi ujian nasional dan masalah keluarga yang membelit, membuatnya marah pada Tuhan. “Kenapa karena aku homo aku dapat masalah berlipat,” kenangnya sendu. Apalagi saat dikatai banci oleh teman-temannya. Ia bertanya, bagaimana jadi lelaki sebenarnya? “Gara-gara aku homo makanya jadi gini,” kutunya dalam hati.  Ia hampir frustasi. 

Di tahun 2011, semuanya perlahan membaik. Penyebabnya, untuk pertama kalinya ia mengikuti pelatihan dari Aliansi Sumut Bersatu (ASB) tentang seksualitas. Ia pun mulai mencari referensi tentang homoseksual. Sampai akhirnya bertemu dengan seorang teman yang juga homoseksual –lesbian- yang memberikannya buku-buku tentang LBGT ditambah buku-buku lain milik ASB. Dari sana ia mulai paham. Mulai rajin ikut pelatihan-pelatihan dan belajar tentang HAM. Kemudian, ia sadar ia bukan seorang pelaku penyimpangan dan pendosa. Ia selanjutnya bantu membuat organisasi LGBT Medan, namun tidak berkembang karena beberapa faktor.

Dika mengaku tak mau langsung memberitahukan ia adalah seorang gay. Ia menyiapkan konsep yang kuat agar tak didiskriminasi. Alhasil, saat semester 2, ia berhasil coming in. Lalu, ia mulai coming out ketika semester 5. Ceritanya, waktu itu tengah berada di kelas mata kuliah Antropologi Sosial. Ada satu kelompok yang mempresentasikan topik kepribadian. Lama kelamaan, mereka mulai membahas homoseksual dan menyatakan itu sebagai suatu penyimpangan. Merasa tak terima, 2 teman akrab Dika yang tahu benar kehidupannya berkomentar. Mereka membeberkan fakta. Tak tinggal diam, ia pun berkomentar homoseksual adalah sesuatu yang alami dan merupakan pilihan. Dengan segenap keberanian, ia membeberkan kalau ia adalah seorang homoseksual atau gay ke seluruh isi kelas. Mereka kaget bahkan ada yang bisik-bisik. Akhirnya mereka banyak bertanya.

“Kenapa Anda homoseksual?”

“Ya, kenapa Anda heteroseksual?” tanyanya balik

“Karena saya suka wanita,”

“Saya juga sama. Karena saya suka lelaki,” jawab Dika pasti.

Hanya itu lah yang bisa ia katakan. Setelah itu, di luar dugaan, tak ada diskriminasi berlebihan yang diterimanya. Malah ia semakin kompak dengan teman wanita yang dulu sempat jauh. Hanya saja tetap ada teman lelaki yang menjaga jarak dengannya. Bukan teman dekat memang. Tapi selama ia tak mengganggu mereka dan sebaliknya, ya biarkan saja.

Beda dengan lingkungan kuliah, keluarga besarnya tak tau ia adalah gay, kecuali sang adik. Saat ini, Dika tinggal di Medan bersama adiknya yang masih SMA, sementara keluarga yang lain di kampung halaman, Bagan Batu. Sebelum memberitahu adiknya, Dika memasang strategi khusus. Ia mencari buku-buku yang berhubungan dengan LGBT dan disebar di kosannya. Adiknya yang memang suka baca merasa penasaran dan membaca buku-buku tersebut. Walaupun merasa seram, Dika bilang baca sajalah. Mulai dari sini, ia tak langsung memberitahu pada adiknya. Ia pasang strategi selanjutnya. Setiap skype-an dengan pacar (lelaki)nya yang sudah dipacarinya selama 7 bulan di Jakarta, Dika selalu membiarkan laptopnya terpampang. Adiknya lihat dan bingung.

“Kok abang skype-an sama cowok?”

“Iya, dia pacar abang,”

“Berarti abang kan.. suka sama cowok?” kata Dika menirukan adiknya ketika itu.

“Iya,” kata Dika pasti

Syukurlah Dika mendapat pengertian dan pemakluman dari adiknya. Buku-buku yang sudah dilahap adiknya, membuat ia paham abangnya sama dengan orang lain. “Bahkan sekarang jadi teman curhat aku,” katanya sambil tertawa.

Namun Dika mengaku saat ini belum siap memberitahu mama dan keluarga lainnya. Melihat kondisi mamanya yang sudah berumur, Dika pun kembali menyusun strategi. Ia ingin mengukir prestasi dan menunjukan pada orang tua, anaknya memang gay tapi bisa berprestasi. Kasarnya, ketika sudah mapan secara finansial dan mental kemudian terjadi apa-apa pada sang mama saat diberitahu, maka ia sudah siap.
Dika menjalani hari-harinya sama seperti mahasiswa lainnya. Selain bekerja di ASB, ia juga adalah sekretaris jenderal organisasi Antropologi Indonesia sampai tahun 2014 nanti. Ke depannya, ia yang sudah merasa klop dengan pasangannya, akan tinggal tetap di Jakarta bersama. Mereka akan mencari kerja dan ia melanjutkan S2 di sana. Jika ia dan pasangan sudah mapan, mereka akan menemui orang tua masing-masing untuk memberitahu hubungan mereka. “Kalau tidak diterima, kita serahkan saja pada Yang Maha Kuasa,” ujar mahasiswa Antropologi 2010 ini. Mereka ingin hidup bersama selamanya dan fokus menjadi aktivis LGBT.

Sama dengan manusia lainnya, Dika dan pasangannya juga ingin memiliki keturunan. Namun, karena keterbatasan alat reproduksi maka mereka memutuskan nantinya akan mengadopsi anak. Makanya mereka nabung untuk merawat anak mereka kelak. “Menjadi pembenaran kepada orang heteroseksual saat bicara keturunan. Tapi yang terpenting kebahagiaan,” jelasnya.

Menjadi seorang gay pun memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, ia bangga bisa menjadi dirinya sendiri, seorang gay. Tidak pakai topeng lagi. Ia merasa sama bukan pendosa dan pembuat masalah. Ia tertantang turun ke masyarakat untuk menolong teman-teman LGBT lainnya. Negatifnya menyoal identitas dan ke orangtua. Ia sering teringat bayangan sang mama. Lingkungan, media atau status media sosial teman-temannya sering menjelek-jelekan LGBT, membuatnya jadi emosi dan gampang marah.

Dika tak pernah berharap banyak pada masyarakat. Ia juga tak mau mneyalahkan masyarakat. Menurutnya yang salah hanya doktrin yang sudah ada. Manusia hanya belajar dan menerima apa yang ada. Tidak semua orang bisa menganalisis. Masyarakat harus buka mata kalau ada teman-teman LGBT. Saling menghargai pilihan. “Enggak harapin doktrin, cuma saling menghargai, selama tidak saling mengganggu,” tandasnya.


SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

0 komentar:

Posting Komentar