
Enam tahun yang lalu, ketika duduk di kelas 3 Sekolah Menegah Pertama
(SMP), aku, Edison Franky Suwardika Butar-butar sadar bahwa aku tengah memasuki
masa remaja (pubertas). Aku mulai merasakan keinginan dekat dengan seseorang,
sama seperti remaja lainnya. Namun bedanya, aku ingin dekat dengan seorang
laki-laki, bukan wanita. Aku bingung namun di usiaku yang masih ‘mengkal’, aku
tak paham apa yang sebenarnya terjadi. Memasuki masa SMA, perbedaan yang aku
miliki semakin terasa. Bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) jurusan
Farmasi dengan hanya 6 siswa lelaki dari 50 siswa yang ada, membuat kami berenam
sangat akrab. Sejak kelas 1 SMA, Dika –begitu aku biasa disapa- diam-diam
menaruh ketertarikan pada seorang teman lelakiku. Lagi-lagi, aku belum mengerti
mengapa. Ketika duduk di kelas 2 SMA, rasa bingungku semakin tinggi. “Kok aku
suka sama cowok?,” aku membatin. Ketidakpahaman dan kebingungan serta desakan
dari teman-temanku untuk punya pacar membuat aku memutuskan menjalin hubungan
dengan adik kelasku bernama Lusi. Sayang, hubungan kami hanya berjalan 1 bulan.
Aku tak merasakan ketertarikan dan kenyamanan sama sekali. Berpegangan tangan
saja terasa aneh. Hambar. Sejak saat itulah aku mulai mendekatkan diri pada
lelaki.
***
Jumat lalu (22/3), mengenakan kemeja merah muda terang, skinny jeans biru,
kacamata berbingkai hitam dengan min 2,5, menggunakan sepatu kets serta sebotol
minuman digenggaman, Dika berjalan cepat di koridor gedung D Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menghampiri saya. Sedikit berbasa-basi, Dika
kemudian membuka obrolan dengan sejarah keluarganya. Ia adalah anak keempat
dari 5 bersaudara. Dikeluarganya, hanya ia anak laki-laki. Sepeninggalan sang
ayah pada usia 2 tahun, Dika dan ke empat kakaknya diasuh oleh sang mama. Dika
kecil mendapat perlakuan eksklusif. Ia tak boleh menyapu dan mencuci. Kegiatan
sehari-harinya hanya sekolah, main sepak bola dan main bola voli. ‘Bau’ tangan
wanita disekelilingnya menurut Dika bukanlah alasan utama kenapa ia menyukai
lelaki. “Suatu kebetulan aja,” singkatnya. Teman-temannya sering bilang,
mungkin ia haus kasih sayang laki-laki. Ya benar ia ingin disayang oleh
laki-laki. Kalau ditarik ke arah itu, ia merasa 50:50. “Yang punya ayah juga
ada yang kayak gitu,” kata Dika.
Sewaktu SMA, Dika tak punya keberanian untuk berkonsultasi tentang perbedaannya
ini. Ia takut, sebab tak ada teman yang sepertinya. Ia pun menumpahkan segala
rasanya melalui status di Friendster (FS) dan bertemu orang yang sama
dengannya. Tanggapannya biasa saja. Si teman FS bilang kalau sudah begitu,
terima saja.
“Kenapa Tuhan ciptakan aku kayak gini? Kalau bisa milih, aku enggak mau
diciptakan kayak gini. Kenapa saat bayi aku tidak bisa memilih untuk lahir
seperti yang lain,” tanyanya pada Sang Pencipta. Kala itu, kelas 3 SMA,
berbagai masalah ia topang. Putus dengan pacar lelaki pertamanya, akan
menghadapi ujian nasional dan masalah keluarga yang membelit, membuatnya marah
pada Tuhan. “Kenapa karena aku homo aku dapat masalah berlipat,” kenangnya
sendu. Apalagi saat dikatai banci oleh teman-temannya. Ia bertanya, bagaimana
jadi lelaki sebenarnya? “Gara-gara aku homo makanya jadi gini,” kutunya dalam
hati. Ia hampir frustasi.
Di tahun 2011, semuanya perlahan membaik. Penyebabnya, untuk pertama
kalinya ia mengikuti pelatihan dari Aliansi Sumut Bersatu (ASB) tentang
seksualitas. Ia pun mulai mencari referensi tentang homoseksual. Sampai
akhirnya bertemu dengan seorang teman yang juga homoseksual –lesbian- yang
memberikannya buku-buku tentang LBGT ditambah buku-buku lain milik ASB. Dari sana
ia mulai paham. Mulai rajin ikut pelatihan-pelatihan dan belajar tentang HAM.
Kemudian, ia sadar ia bukan seorang pelaku penyimpangan dan pendosa. Ia
selanjutnya bantu membuat organisasi LGBT Medan, namun tidak berkembang karena
beberapa faktor.
Dika mengaku tak mau langsung memberitahukan ia adalah seorang gay. Ia
menyiapkan konsep yang kuat agar tak didiskriminasi. Alhasil, saat semester 2,
ia berhasil coming in. Lalu, ia mulai
coming out ketika semester 5.
Ceritanya, waktu itu tengah berada di kelas mata kuliah Antropologi Sosial. Ada
satu kelompok yang mempresentasikan topik kepribadian. Lama kelamaan, mereka
mulai membahas homoseksual dan menyatakan itu sebagai suatu penyimpangan.
Merasa tak terima, 2 teman akrab Dika yang tahu benar kehidupannya berkomentar.
Mereka membeberkan fakta. Tak tinggal diam, ia pun berkomentar homoseksual
adalah sesuatu yang alami dan merupakan pilihan. Dengan segenap keberanian, ia
membeberkan kalau ia adalah seorang homoseksual atau gay ke seluruh isi kelas.
Mereka kaget bahkan ada yang bisik-bisik. Akhirnya mereka banyak bertanya.
“Kenapa Anda homoseksual?”
“Ya, kenapa Anda heteroseksual?” tanyanya balik
“Karena saya suka wanita,”
“Saya juga sama. Karena saya suka lelaki,” jawab Dika pasti.
Hanya itu lah yang bisa ia katakan. Setelah itu, di luar dugaan, tak ada
diskriminasi berlebihan yang diterimanya. Malah ia semakin kompak dengan teman
wanita yang dulu sempat jauh. Hanya saja tetap ada teman lelaki yang menjaga
jarak dengannya. Bukan teman dekat memang. Tapi selama ia tak mengganggu mereka
dan sebaliknya, ya biarkan saja.
Beda dengan lingkungan kuliah, keluarga besarnya tak tau ia adalah gay,
kecuali sang adik. Saat ini, Dika tinggal di Medan bersama adiknya yang masih
SMA, sementara keluarga yang lain di kampung halaman, Bagan Batu. Sebelum
memberitahu adiknya, Dika memasang strategi khusus. Ia mencari buku-buku yang
berhubungan dengan LGBT dan disebar di kosannya. Adiknya yang memang suka baca
merasa penasaran dan membaca buku-buku tersebut. Walaupun merasa seram, Dika bilang
baca sajalah. Mulai dari sini, ia tak langsung memberitahu pada adiknya. Ia
pasang strategi selanjutnya. Setiap skype-an dengan pacar (lelaki)nya yang
sudah dipacarinya selama 7 bulan di Jakarta, Dika selalu membiarkan laptopnya
terpampang. Adiknya lihat dan bingung.
“Kok abang skype-an sama cowok?”
“Iya, dia pacar abang,”
“Berarti abang kan.. suka sama cowok?” kata Dika menirukan adiknya ketika
itu.
“Iya,” kata Dika pasti
Syukurlah Dika mendapat pengertian dan pemakluman dari adiknya. Buku-buku
yang sudah dilahap adiknya, membuat ia paham abangnya sama dengan orang lain.
“Bahkan sekarang jadi teman curhat aku,” katanya sambil tertawa.
Namun Dika mengaku saat ini belum siap memberitahu mama dan keluarga
lainnya. Melihat kondisi mamanya yang sudah berumur, Dika pun kembali menyusun
strategi. Ia ingin mengukir prestasi dan menunjukan pada orang tua, anaknya
memang gay tapi bisa berprestasi. Kasarnya, ketika sudah mapan secara finansial
dan mental kemudian terjadi apa-apa pada sang mama saat diberitahu, maka ia
sudah siap.
Dika menjalani hari-harinya sama seperti mahasiswa lainnya. Selain bekerja
di ASB, ia juga adalah sekretaris jenderal organisasi Antropologi Indonesia
sampai tahun 2014 nanti. Ke depannya, ia yang sudah merasa klop dengan
pasangannya, akan tinggal tetap di Jakarta bersama. Mereka akan mencari kerja
dan ia melanjutkan S2 di sana. Jika ia dan pasangan sudah mapan, mereka akan
menemui orang tua masing-masing untuk memberitahu hubungan mereka. “Kalau tidak
diterima, kita serahkan saja pada Yang Maha Kuasa,” ujar mahasiswa Antropologi
2010 ini. Mereka ingin hidup bersama selamanya dan fokus menjadi aktivis LGBT.
Sama dengan manusia lainnya, Dika dan pasangannya juga ingin memiliki
keturunan. Namun, karena keterbatasan alat reproduksi maka mereka memutuskan
nantinya akan mengadopsi anak. Makanya mereka nabung untuk merawat anak mereka
kelak. “Menjadi pembenaran kepada orang heteroseksual saat bicara keturunan.
Tapi yang terpenting kebahagiaan,” jelasnya.
Menjadi seorang gay pun memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya,
ia bangga bisa menjadi dirinya sendiri, seorang gay. Tidak pakai topeng lagi.
Ia merasa sama bukan pendosa dan pembuat masalah. Ia tertantang turun ke
masyarakat untuk menolong teman-teman LGBT lainnya. Negatifnya menyoal identitas
dan ke orangtua. Ia sering teringat bayangan sang mama. Lingkungan, media atau
status media sosial teman-temannya sering menjelek-jelekan LGBT, membuatnya
jadi emosi dan gampang marah.
Dika tak pernah berharap banyak pada masyarakat. Ia juga tak mau
mneyalahkan masyarakat. Menurutnya yang salah hanya doktrin yang sudah ada.
Manusia hanya belajar dan menerima apa yang ada. Tidak semua orang bisa
menganalisis. Masyarakat harus buka mata kalau ada teman-teman LGBT. Saling
menghargai pilihan. “Enggak harapin doktrin, cuma saling menghargai, selama
tidak saling mengganggu,” tandasnya.
0 komentar:
Posting Komentar