Faith and the City; Mengimankan Dunia, Bukan Menduniakan Iman

Tidaklah mudah me-review buku yang membuat seakan tak rela terhenti membaca sebelum tamat. Saat membaca buku ini, saya lupa akan fungsi pembatas buku.
Faith and the City adalah novel fiksi terbaru dari Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Novel ini menyajikan cerita lanjutan dari novel sebelumnya, Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTLDA). Masih dengan tokoh utama yang sama, sepasang suami-istri paling romantis sejagat dunia pernovelan, Hanum dan Rangga. Latar tempatnya juga masih sama, di kota New York. Loh, kenapa masih di New York? Bukan kah urusan Hanum dengan jantung dunia ini sudah selesai? Begini ceritanya...
Usai Awarding Night : Hero of The Year Philipus Brown, yang mempertemukan Brown dan Azima beserta putrinya, kerumunan wartawan sudah berkumpul siap menghadang Brown, Azima, Hanum dan Rangga. Menyerang Brown dan Azima dengan rentetan pertanyaan dan menawarkan undangan wawancara eksklusif di media mereka masing-masing. Beberapa bahkan menjanjikan bayaran yang tinggi. Suasana seketika riuh. Namun Brown dan Azima tetap pada keputusan masing-masing, enggan buka suara pada wartawan dan media.
Hari setelahnya, Hanum dan Rangga dalam perjalanan menuju bandara untuk kembali ke Wina. Hanum merasa sudah cukup menaklukkan New York dengan menyelesaikan tugas Would the World be Better Without Islam, dan mempertemukan Brown dan Azima sebagai bonusnya. Hal yang bahkan tak bisa dilakukan oleh Andy Cooper –si semelekethe sebut Rangga-, raja jurnalistik, kepala redaksi Global New York TV (GNTV), yang anda mendatangkan narasumber berita apapun. Idola Hanum.
Sekembalinya ke Wina, Hanum berjanji akan menemani Rangga menyelesaikan disertasinya yang tertunda, beristirahat dan fokus pada keinginan mereka memiliki momongan. Di bandara, Hanum dan Rangga mengucapkan salam perpisahan pada Azima, Sarah dan Layla. Sarah dan Layla bahkan memberikan sebuah buku yang mereka buat sendiri, dan Brown melalui Layla membelikan sepasang jam tangan bermerek pada Hanum dan Rangga.
“Jadi Say, aku sudah punya rencana selama kamu cuti kerja di Wina,” kata Rangga saat menunggu antrian check-in.
Menit selanjutnya menjadi menit yang mengubah janji dan khayal Hanum dan Rangga.
“Kurasa Hanum akan tertarik untuk tinggal dulu di New York City. Bukan begitu, Hanum?”
Andy Cooper. Hanum dan Rangga terperangah. Tanpa ada babibu, Cooper langsung menyatakan keinginannya menjadikan Hanum sebagai reporter sekaligus produser di GNTV. Angin segar bagi Hanum. Pelan tapi pasti Cooper menggiring Hanum keluar dari antrean, menjauh dari Rangga dan seketika Hanum mengabaikannya dan teriakan Rangga hanya berupa angin lalu.
Tanpa restu Rangga, Hanum menerima surat kontrak pelatihan di GNTV selama 3 minggu. Ini berarti, Rangga ‘dipaksa’ untuk menunda lagi pengerjaan disertasinya dan janji Hanum di perjalanan tadi seketika enyah. Janji yang tak terwujud adalah -anggap saja- rencana yang diubah.
Begitulah mengapa takdir Hanum, Rangga dan New York diperpanjang. Hanum tanpa ia sadari mulai terbuai akan gemerlap dunia yang ditawarkan, bertekad membela agamanya, namun justru mengabaikan tugasnya sebagai istri. 
Di sini, saya tidak akan memaparkan isi cerita Faith and the City secara gamblang. Pe-review lain mungkin sudah melakukannya dan yang akan saya lakukan adalah me-review bukan me-rewrite novel ini.

Hanum meraih sukses karirnya, nol di nominal rekeningnya bertambah, namun Rangga makan mi instan setiap hari. Mi instan yang ia masak dan makan sendiri, tanpa Hanum. Bangun dan tidur tanpa melihat Hanum. Salat sendiri tanpa Hanum sebagai makmumnya. Tak pernah lagi Hanum cium tangan kanannya. Bahkan Hanum tak ada berucap izin saat akan pergi.
Dan Rangga, menghibur hatinya sendiri saat memasakan dan makan sendiri dengan monolog meniru saat Hanum di sisinya. Tak pernah protes meski Hanum belum di rumah hingga larut dan pergi saat Rangga belum terbangun. Tetap mendoakan meski Hanum membiarkan tugas Rangga sebagai imam lalai. Mendukung meski Hanum pergi tanpa izin.

Namun ketika Rangga mengingatkan Hanum untuk kembali pada kodratnya sebagai istri, Hanum menyebut Rangga sebagai penjegal mimpi-mimpinya. Ketika Rangga menyadarkan Hanum bahwa ia tengah dimanfaatkan, Hanum menanggap Rangga merendahkannya. Ketika Rangga memutuskan membiarkan Hanum berjalan sendiri meraih mimpi, Hanum menyebutnya tak bahagia melihat kesuksesannya.
Padahal tanpa Hanum sadari, ia meraih kesuksesan karena ridho dari Rangga yang masih Rangga mohonkan untuk Tuhan terima. Masalah yang Hanum hadapi selesai karena tanpa ia ketahui, Rangga lah yang mendatangkan solusi yang Hanum butuhkan.
Ketika Hanum tau semuanya, ia menangis, ingin meminta maaf secepat yang ia bisa. Ketika Hanum menangis dihadapan Rangga, ia bukan berkata ia memaafkan Hanum. Tapi justru ikut meminta maaf – atas kesalahan yang sebenarnya tercipta karena kealpaan Hanum-.
Jalan cerita atau format cerita di novel ini menggambarkan ciri Hanum Rais dan Rangga Almahendra. Jalan dan format cerita yang sama dengan BTDLA. Sepasang suami-istri, cita dan agama. Mengadopsi teori rantai makanan, cerita novel ini juga saling membutuhkan agar utuh, agar konflik terselesaikan dan menjadi cerita yang sempurna. Cerita akan selesai jika semua komponen cerita disatukan, dipertemukan. Jika BTDLA berkutat dengan kasus WTC, Faith and the City berkutat dengan rating dan sharing.
Hanum dengan ke-gegabahannya menganggap Rangga tak peduli, menentang Rangga dan menjadikannya urusan belakangan. Rangga dengan kesabarannya, diam-diam membantu, menyimpan segala unek-unek nya sendiri.
BTDLA berusaha membuktikan Islam adalah agama yang damai melalui tulisan Would the World be Better Without Islam. Di Faith and the City, Hanum berusaha mengenalkan Islam melalui program di GNTV tanpa ia sadari iming-iming nama besar, prestise, gaji yang menjanjikan, ia telah diperbudak oleh rating dan sharing yang ditularkan oleh Cooper.
Meski memiliki format yang sama, konflik yang disebabkan oleh rating dan sharing tetap memberikan ketegangan, amarah, keseruan yang berbeda bagi pembaca. Setiap membaca kerakusan Cooper, rasanya ingin berteriak “kotor! Sampah!”. Ketika Hanum bangkang pada sang suami, ingin bilang “jangan bodoh! Ridho suami adalah surga mu!”. Dan ketika sikap romantis diam-diam rangga, ingin bilang “MasyaAllah! Suami idaman. Mau yang seperti ini”.
Meski hanya impian Hanum dan Rangga, novel fiksi ini dibuat tak hanya bermodal mimpi, namun ada riset di dalamnya. Ada ilmu dalam khayal yang dicekoki Hanum-Rangga. Mampu menggambarkan dunia TV yang diperbudak oleh rating dan sharing. Bagaimana pekerja TV menjadikan tujuan memenuhi keinginan penonton sebagai alibi menaikkan rating-sharing. Intinya meski fiksi dan berlatar Islam, novel ini memberikan gambaran kehidupan TV yang mungkin tak diketahui orang awam.
Selain formatnya yang masih sama, cara Brown memberi ‘pelajaran’ pada Cooper terbilang mainstream. Cara yang kadung digunakan penulis -baik buku maupun film- untuk menciptakan ending yang bahagia dengan menghancurkan si antagonis. Bagian ini yang membuat desiran darah yang telah mendidih mendadak turun suhu. Namun kedua hal ini tak sedikit pun membuat kadar cinta pada novel ini berkurang 0,00000 sekian persen pun. Hanum-Rangga nya itu loh, romantisnya semena-mena.
Dunia tanpa iman, pribadi tanpa iman, cita dan cinta tanpa iman, adalah nafsu, adalah ilusi kesenangan duniawi semata. Menjalankan hidup tanpa iman, bagai kerbau dicucuk hidungnya. Dipecundangi nafsu.
Saya menyelesaikan buku ini dalam 5 jam, namun ada yang menyelesaikannya dalam 3 jam. Anda, berapa jam? Can’t wait for The Coverso!!!

SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

3 komentar:

  1. Aku pengen baca... sepertinya harus segera beli.

    BalasHapus
  2. 2hari baru kelar mbak, coz digangguin si kecil trus... tapi bis baca reviewnya bikin tmbah membekas dikpala...:)

    BalasHapus
  3. 2hari baru kelar mbak, coz digangguin si kecil trus... tapi bis baca reviewnya bikin tmbah membekas dikpala...:)

    BalasHapus