Bang Radit, Aku Padamu!

6 Tahun lalu. Udah lama kali loh itu bang. Ke Medan kek..
Saya adalah orang yang suka memperhatikan dan mengagumi orang lain. Saya rasa setiap orang memiliki sisi tersendiri untuk dikagumi. Kita bisa mendapatkan pelajaran dari setiap orang. Tapi hanya beberapa orang yang saya ikuti betul kisah hidupnya, karyanya dan segala hal yang berhubungan dengannya. Di antara mereka kebanyakan adalah penulis dan beberapa musisi. Sebab, buku dan musik adalah dua hal yang sangat saya senangi.
Salah satu dari mereka adalah Raditya Dika. Di kalangan remaja, nama Raditya mungkin tidak asing. Terlebih sekarang, ia tidak hanya dikenal sebagai penulis, tapi juga sutradara bahkan pebisnis. Bisa dikatakan ia kini menjadi raja media sosial. Setiap karya yang ia keluarkan, selalu menjadi trending topic. Film yang ia rilis mengundang ratusan ribu penonton dalam hitungan hari.
Tapi ketika mengagumi seseorang, saya memilih melihat proses bagaimana ia bisa berada di posisinya sekarang. Begitu juga dengan Raditya. Mengapa saya memilih menulis tentangnya dibanding penulis lain? Karena proses yang pernah ia lalui adalah posisi dimana saya berada saat ini.
Raditya mulai menulis sejak SMP di buku hariannya. Kebetulan, saya juga melakukan hal yang sama. Ketika SD, saya selalu membawa buku harian ke sekolah. Ketika saya merasa kesal, malas berbicara, atau ada sesuatu yang saya pikirkan atau rasakan, maka saya menuliskannya di buku harian. Raditya kemudian berpindah ke buku harian digital, yakni blog pada tahun 2002 ketika ia berkuliah di Adelaide, Australia.
Blognya ia isi dengan cerita kehidupan sehari-hari. Hal yang sangat sederhana. Suatu kebetulan lain, saya juga memulai menggunakan blog ketika saya kuliah. Bedanya, jika Raditya menuliskannya dalam bentuk cerita, saya menulis dalam bentuk prosa. Saya menulis tentang apa yang saya rasa dan pikir sebab itu saya menamai menu di blog dengan “Feel and think”.
Blog Raditya tidak langsung dibanjiri pembaca. Satu sumber mengatakan, awalnya tulisan Raditya hanya dibaca oleh lima orang saja. Namun konsistensi Raditya untuk terus menulis -satu hal yang harus saya tiru-, mengundang lebih banyak pembaca. Ditambah ketika itu blog sedang dalam masa kejayaannya. Sampai kemudian tulisan berjudul Kambing Jantan miliknya menjadi pintu pembuka kesuksesannya kini.
Kambing Jantan memenangkan penghargaan di Indonesian Blog Award dan penghargaan dari Indosat sebagai The Online Inspiring pada tahun 2009. Ini menjadi motivasi besar bagi Raditya untuk terus menulis dan menerbitkan sebuah buku. Dikatakan bahwa awalnya Raditya berniat menulis buku tentang filsafat. Namun dorongan untuk membukukan Kambing Jantan ternyata lebih banyak.
Sampai di sini, Raditya mengajarkan saya tentang kekonsistenan dan kedisiplinan dalam mengerjakan sesuatu. Hal ini selalu saya ingat setiap saya mengerjakan sesuatu. Dan saya sadar, kedua hal tersebut adalah kunci dalam meraih kesuksesan terhadap apapun yang dikerjakan.
Alay sejak napas pertama

Selain itu, dalam hal menulis, Raditya selalu berkata menulislah dengan jujur. Kalau ingin terjun di dunia komedi, lakukan komedi dari hati. Kegelisahan adalah sumber inspirasi, katanya. Utarakan apa yang menjadi kegelisahan kita dan tuangkan dalam karya. Semua karya selalu berasal dari kegelisahan; Laskar Pelangi berasal dari kegelisahan Andrea Hirata tentang pendidikan yang dialaminya, Avatar berawal dari kegelisahan James Cameron tentang kolonisasi, dan Malam Minggu Miko berasal dari kegelisahan Raditya Dika ketika menjomblo dan bingung apa yang harus dikerjakan ketika malam minggu.
Saya sempat merasa pesimis bahwa saya tidak akan pernah bisa menulis. Saya tidak punya apapun untuk ditulis. Pengetahuan, cakrawala pemikiran saya tidak begitu luas sampai bisa menghasilkan sebuah tulisan. Namun kata kejujuran dan kegelisahan dari Raditya Dika mengembalikan rasa optimis saya. Saya tidak perlu menjadi seorang ahli terlebih dahulu untuk bisa berbagi dengan tulisan. Saya hanya perlu menggunakan diri dan hati saya untuk menulis.
Perjalanannya untuk menerbitkan novel Kambing Jantan tidaklah mudah. Ditolak penerbit, buku tidak laku, juga ia rasakan. Tapi ia adalah seorang pekerja keras, kreatif dan selalu berusaha memanfaatkan peluang. Tiga hal yang kini sedang berusaha saya adaptasi ke diri saya.
Kayak ada manis-manisnya gitu

Ketika buku Kambing Jantan tidak laku, ia melakukan berbagai strategi pemasaran, seperti promosi dari mulut ke mulut, mempromosikannya di blog hingga meminta pembacanya untuk berfoto dengan novelnya untuk dikirim ke blognya. Hasilnya, penjualan meningkat pesat.
Raditya telah meluncurkan 7 buku yakni Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa, Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang, Marmut Merah Jambu, Manusia Setengah Salmon, Koala Kumal : tentang patah hati.
Beberapa bukunya juga dijadikan film yang ia perankan, tulis skenario bahkan sutradarai sendiri yakni Kambing Jantan: The Movie, Cinta Brontosaurus, Cinta Dalam Kardus, Manusia Setengah Salmon, Marmut Merah Jambu, Koala Kumal.  Di luar dari bukunya, Raditya juga merilis film yang ia tulis dan sutradari sendiri yakni  Malam Minggu Miko The Movie, Single dan Hangout.
Pernah lumayan agak kurus
Raditya Dika. Ia melabeli dirinya sebagai sosok yang lucu, cupu, terintimidasi. Tapi melalui karyanya ia mengajarkan untuk menjadi pribadi yang pekerja keras, tidak pernah menyerah, jangan pernah takut, pandai melihat dan memanfaatkan peluang, lakukan semua hal dengan hati, lakukan apa yang disukai.
Ia si cerdas yang tidak pernah menggurui. Ia si kritis yang tidak pernah menyindir. Melalui komedi, ia mengingatkan. Melalui komedi ia mengkritik. Melalui komedi ia menghibur. Ia menjadikan lelucon sebagai cara untuk berpikir. Menjadikan tawa sebagai pengingat. Menertawakan kehidupan untuk kemudian memperbaikinya. Dan saya belajar akan itu.

“Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya..... Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.”  ― Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon, 2011.
SHARE

Aufkla Stories

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image

6 komentar:

  1. Awal tau radith dari buku kambing jantan pas awal2 gue SMA (agak telat sih), dan dia adalah salah satu orang yang bikin gue suka nulis sampe sekarang, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Dia buat pikiran nulis itu susah salah besar. Semangat nulis terus. Blognya bagus btw 👍

      Hapus