Hai selamat bertemu lagi. Aku sudah lama
menghindarimu. Sialku lah kau
ada di sini.
Haha.. Lirik
ini begitu jujur. Selalu seperti itu. Kau menyebalkan, kau tahu? Memang sebuah
kesialan ketika bertemu denganmu, setelah aku lelah menjauh.
Sungguh tak mudah bagiku. Rasanya tak
ingin bernafas lagi. Tegak berdiri di depanmu kini.
Ya, teramat tak
mudah. Tapi juga tak seberlebihan itu, sampai tak ingin bernafas. Siapa kau
rupanya? Hanya nafasku berjalan secara sadar ketika tepat dihadapmu. Ah ya,
tapi bukan cuma itu. Bahkan ketika hanya melihat potret atau mendengar suaramu
saja, nafasku memburu.
Sakitnya menusuki jantung ini. Melawan
cinta yang ada di hati.
Melawan cinta
di hati dengan berlaku layaknya sahabat. Mendengarmu bercerita tentangnya. Ikut
tertawa atau sekedar berkata ‘cieee’ saat kau mengumbar kemesraanmu dengannya.
Seperti itu kah maksud dari melawan cinta? Kalau iya, benar, sakitnya menusuk
jantung.
Dan upayaku tahu diri tak selamanya
berhasil. Pabila kau muncul terus begini. Tanpa pernah kita bisa bersama. Pergilah,
menghilang sajalah lagi.
Ribuan kali aku
lontarkan, lewat lisan pun tulisan untuk menjauh. Aku tak pantas jika. Aku bukan
seleramu. Aku sadar itu. Dan aku yakin kita tak akan pernah bersama. Tapi aku
berakhir bagai orang yang munafik ketika kau datang lagi. Bisa kah pergi dan tak
kembali?
Bye selamat berpisah lagi. Meski masih
ingin memandangimu. Lebih baik kau tiada di sini.
Tiap kali aku
melihat punggungmu menjauh, aku pun selalu mengucapkan itu. ‘Bye selamat
berpisah lagi’. Walau aku merindukanmu bahkan ketika kau ada di sisi. Tapi memang
lebih baik kau tiada di sini, karena lebih menyakitkan ketika kau dekat.
Sungguh tak mudah bagiku. Menghentikan
segala khayalan gila.
Tiap habis
bertemu denganmu, aku bak putri di negeri dongeng. Mengkhayalkan kisah cinta
indah denganmu. Aku putri yang menunggumu, pangeranku datang menjemput. Sabar menantimu
dalam perjalanan pencarianmu. Selalu begitu tiap habis melihatmu atau sekedar
mengingat (teringat) tentangmu.
Jika
kau ada dan ku cuma bisa. Meradang menjadi yang di sisimu. Membenci nasibku
yang tak berubah.
Aku memang
membenci nasibku yang labil terhadapmu. Sebentar benci, sebentar luluh. Sebentar
menyerah, sebentar ingin berjuang. Dan semua karena kau pun begitu. Sebentar ada,
sebentar menghilang.
Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi
tak bisa. Berkali-kali ku telah berjanji menyerah.
Kau sering
bilang begitu. Andai kau...kita pasti akan... Andai aku tak...kita pasti
akan... Andai saja kau.....aku pasti akan.... Berandai-andai andai semua
seperti yang kau andaikan maka kita tak hanya sebuah pengandaian. Andai pula
yang membuatku terkadang berandai aku tlah lupa kau, dan terkadang berandai
kita adalah kita.
Dalam cerita
tentang kau, lagu ini tak punya celah sedikit pun. Begitu sempurna
menggambarkan kesesukahatianmu dan kegilaanku. Thanks Dee!
0 komentar:
Posting Komentar